SAMARINDA — Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan DKP Kaltim Irma Listiawati menyatakan permintaan pasar internasional terhadap kepiting hidup asal perairan pesisir Kalimantan Timur tercatat tinggi dan stabil. Nilai ekspor komoditas itu menembus Rp13,44 miliar dari pengiriman 85,86 ton sepanjang September 2026.
Pasar China, Malaysia, dan Singapura menjadi tujuan tetap ekspor kepiting hidup Kaltim. Ketiga negara mitra itu menyerap pasokan secara konsisten dari perairan pesisir daerah tersebut.
Udang Windu Beku Masih Pimpin Devisa Perikanan Kaltim
Data resmi BP2MHKP Balikpapan menunjukkan akumulasi total nilai ekspor hasil perikanan Kaltim pada September 2026 mencapai Rp65,39 miliar. Capaian itu diraih melalui pengiriman 360,32 ton komoditas perikanan daerah.
Udang windu beku menduduki posisi puncak dengan sumbangan devisa Rp35,14 miliar dari volume 137,73 ton. Posisi ketiga ditempati udang pink beku senilai Rp10,40 miliar, disusul udang putih beku Rp2,00 miliar.
Komoditas ikan segar turut menyumbang devisa, yakni bawal segar Rp1,55 miliar dan kerapu segar Rp1,04 miliar. Total perolehan dari seluruh komoditas menegaskan perikanan sebagai salah satu penopang ekspor nonmigas Kaltim.
Jaminan Mutu BP2MHKP Jadi Kunci Tembus Pasar Global
Irma menegaskan jaminan mutu dan standar kebersihan produk dari fasilitas BP2MHKP Balikpapan menjadi kunci keberhasilan penetrasi pasar global. Fasilitas pengawasan mutu itu memastikan setiap komoditas memenuhi persyaratan negara tujuan sebelum dikirim ke luar negeri.
"Permintaan pasar internasional terhadap produk kepiting hidup asal perairan pesisir Kalimantan Timur tercatat sangat tinggi dan stabil," ujar Irma di Samarinda.
DKP Kaltim berupaya memperluas akses pasar ekspor komoditas kelautan guna meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir. Langkah itu ditempuh dengan menjaga daya saing produk di pasar global sekaligus memperkuat posisi nelayan dan pembudidaya di daerah tersebut.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Subsektor Kelautan
Peningkatan daya saing produk perikanan daerah dilaksanakan secara berkelanjutan. Irma menyebut upaya itu sebagai bagian dari dukungan terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi subsektor kelautan Kaltim.
"Sektor udang windu beku masih mendominasi posisi puncak dengan sumbangan devisa mencapai Rp35,14 miliar dari volume 137,73 ton," tutur Irma.
Dengan tren permintaan yang stabil dari tiga negara mitra, kepiting hidup berpeluang mempertahankan posisinya sebagai penyumbang devisa terbesar kedua bagi sektor perikanan Kaltim sepanjang tahun berjalan.