KALIMANTAN TIMUR — Layanan pesawat amfibi Santai Seaplane direncanakan mulai beroperasi dari Bali pada 2026 untuk menghubungkan destinasi pesisir dan kepulauan yang selama ini sulit dijangkau. Jaringan awal mencakup perairan Benoa, Pantai Sira dan Mandalika di Lombok, Labuan Bajo, Kepulauan Kangean, Maluku Utara, hingga Danau Toba. Konsep penerbangan point-to-point ini menyasar traveler yang ingin memangkas waktu perjalanan antarpulau.
Santai Seaplane, bagian dari Seaplane Asia, menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Pariwisata RI untuk memperluas konektivitas udara ke kawasan pesisir dan kepulauan. Pembahasan berlangsung dalam pertemuan CEO Seaplane Asia Group Dennis Keller dan CEO Santai Seaplane Wirmandi Sugriat bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana serta Deputi Bidang Pemasaran Ni Made Ayu Marthini. Agenda mencakup pengembangan jaringan penerbangan, penentuan titik pendaratan di perairan, dan integrasi layanan dengan strategi promosi pariwisata nasional.
Selama ini, banyak destinasi pesisir Indonesia hanya bisa dicapai lewat kombinasi perjalanan darat, laut, dan udara. Pesawat amfibi bersertifikasi memungkinkan lepas landas dan mendarat di darat maupun permukaan air, sehingga rute menuju kawasan tanpa bandara konvensional menjadi lebih langsung.
Rute Awal: Dari Benoa sampai Danau Toba
Bali dipilih sebagai basis operasi awal pada 2026. Dari perairan Benoa, jaringan pertama menjangkau Pantai Sira dan Mandalika di Lombok, Labuan Bajo, Kepulauan Kangean, Maluku Utara, serta Danau Toba. Sejumlah titik masih dalam tahap penjajakan bersama mitra destinasi.
Kementerian Pariwisata juga mendorong pengembangan rute menuju Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Kawasan itu dinilai punya potensi wisata yang bisa tumbuh dengan dukungan aksesibilitas lebih baik.
Dampak bagi Rencana Perjalanan Wisatawan
Konektivitas semacam ini mengubah cara traveler menyusun itinerary. Destinasi yang biasanya butuh perjalanan panjang bisa digabung dalam satu trip, misalnya menjadikan Bali sebagai titik awal sebelum melanjutkan ke kawasan pesisir dengan karakter alam dan budaya berbeda.
"Geografi kepulauan Indonesia yang luas membutuhkan solusi transportasi yang inovatif dan fleksibel. Kemitraan dengan Santai Seaplane memungkinkan destinasi pesisir terpencil terhubung secara lebih efisien dengan pusat-pusat transportasi utama, membuka peluang baru bagi pariwisata bernilai tinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat kepulauan," ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Wirmandi Sugriat menambahkan, pihaknya ingin menghadirkan alternatif akses yang menghubungkan pusat transportasi utama dengan destinasi pesisir dan kepulauan secara lebih langsung.
Penerbangan Demonstrasi dan Branding Wonderful Indonesia
Sebelum layanan komersial dibuka, Santai Seaplane merencanakan sejumlah penerbangan demonstrasi untuk memperkenalkan kemampuan pesawat amfibi kepada mitra destinasi dan pelaku industri pariwisata. Salah satunya penerbangan VIP di Labuan Bajo bersama Kementerian Pariwisata, termasuk pendaratan di permukaan air.
Armada Santai Seaplane juga akan membawa identitas pariwisata nasional Wonderful Indonesia atas undangan Kementerian Pariwisata. Branding itu diharapkan memperkuat visibilitas promosi destinasi melalui jaringan penerbangan yang dikembangkan.
Yang Perlu Diketahui Traveler Sebelum Berangkat
Hingga kini belum ada informasi resmi soal harga tiket, jadwal penerbangan, kapasitas penumpang, maupun batas bagasi. Traveler yang berencana memanfaatkan layanan ini sebaiknya memantau kanal resmi Santai Seaplane dan Kementerian Pariwisata untuk pembaruan.
Perlu dicatat, penerbangan perintis ke destinasi baru kerap bergantung pada kesiapan infrastruktur pendaratan, cuaca, dan izin operasi. Konfirmasi jadwal dan tarif via dinas pariwisata setempat atau agen perjalanan resmi menjelang keberangkatan tetap disarankan.
Bagi keluarga maupun solo traveler, kehadiran seaplane berpotensi memangkas durasi transit yang biasanya memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Rencanakan durasi kunjungan lebih panjang di destinasi tujuan, karena akses yang lebih cepat justru membuka ruang eksplorasi yang lebih luas di kawasan pesisir dan kepulauan Indonesia.