KALIMANTAN TIMUR — Perum Bulog mencatat penyerapan gabah setara beras 4,11 juta ton hingga 9 Oktober 2026, melampaui target 4 juta ton yang ditugaskan pemerintah lewat Instruksi Presiden. Capaian itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Stok beras 4,5 juta ton disiapkan untuk mengantisipasi El Nino dan musim paceklik.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal menyebut capaian tersebut sebagai rekor baru bagi perusahaan pelat merah itu, baik dari sisi serapan maupun stok. "Di akhir tahun ini Bulog bisa mengukir sejarah baru, yang mana capaiannya juga capaian yang tertinggi, baik serapannya maupun capaian stoknya yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia Merdeka," kata Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (9/10).
Penyerapan gabah dalam jumlah besar itu tidak sekadar mengejar target. Bulog menyiapkan stok beras 4,5 juta ton sebagai bantalan menghadapi potensi El Nino dan musim paceklik yang diprediksi menekan ketersediaan pangan nasional.
Mengapa Stok Diperkuat Sejak Awal
Rizal menjelaskan, jika stok diperkuat sejak awal, pemerintah punya ruang untuk menyalurkan bantuan saat pasokan beras di pasar tertekan. Stok Bulog disiapkan khusus untuk bantuan pangan masyarakat kelompok desil 1 hingga 4, atau rumah tangga paling rentan secara ekonomi.
"Stok yang ada di Bulog itu adalah berasnya rakyat. Terutama masyarakat yang betul-betul masuk dalam desil 1 dan 4," ujarnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Sejumlah negara produsen beras utama sudah mengalami penurunan produksi, seperti India, Vietnam, dan Thailand. Kondisi itu membuat pasokan global mengetat dan harga berpotensi naik.
Bantuan Pangan dan SPHP Beras
Realisasi bantuan pangan beras untuk periode Juli–September 2026 mencapai 967.512 ton, atau sekitar 98 persen dari target penyaluran. Bantuan itu menjangkau sekitar 33,254 juta penerima yang masuk kelompok desil 1 hingga 4. Penyaluran sudah berjalan pada Februari–Maret dan Juli–September, dengan rencana lanjutan pada Oktober–Desember.
Bulog juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Penugasan tahap pertama sebanyak 828.000 ton tuntas disalurkan pada akhir September. Pemerintah kemudian menambah alokasi SPHP beras 74.182 ton, dan hingga 9 Oktober Bulog telah menyalurkan 49.591 ton dari tambahan itu.
Menurut Rizal, kelanjutan penyaluran tambahan SPHP bergantung pada ketersediaan anggaran dan surat penugasan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas). Tambahan alokasi tersebut merupakan bagian dari rencana penyaluran 1 juta ton yang sebelumnya disampaikan pemerintah.
SPHP Jagung dan Langkah Berikutnya
Di komoditas jagung, penyaluran SPHP telah mencapai 186.461 ton atau sekitar 78 persen dari alokasi yang ditugaskan. Bulog tengah memproses administrasi untuk tambahan penugasan SPHP jagung sebanyak 150.000 ton, yang masih menunggu surat penugasan dari Bapanas.
Bagi petani, serapan gabah yang melampaui target berarti harga jual panen lebih terjaga di tengah risiko gagal panen akibat cuaca. Bagi rumah tangga penerima bantuan, stok 4,5 juta ton menjadi jaminan pasokan beras tetap tersedia hingga akhir tahun.
Posisi Bulog tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Serapan yang menembus 4 juta ton dan stok tertinggi sepanjang sejarah memberi ruang fiskal lebih lebar bagi pemerintah untuk menahan gejolak harga pangan, terutama saat musim paceklik dan tekanan El Nino datang bersamaan.