KALIMANTAN TIMUR — Harga minyak mentah Brent turun US$1,43 atau 1,30% menjadi US$108,43 per barel pada Senin (19/10), setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberi pengecualian sanksi dan tarif untuk Rusia. Kebijakan itu membuka jalan bagi peningkatan ekspor bahan bakar Rusia ke pasar global. Pasar minyak bergerak hati-hati karena Washington masih menilai dampak ekonominya dalam 60 hari ke depan.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga melemah, turun 53 sen atau 0,52% ke US$100,88 per barel, menurut data Reuters. Pergerakan itu membalik sebagian kenaikan akhir pekan lalu, ketika Brent sempat menyentuh US$110 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Pengecualian sanksi diberikan melalui perintah eksekutif yang diteken Trump pada Jumat, berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai Graham Act. Aturan itu sebelumnya disahkan bulan lalu atas desakan sejumlah anggota parlemen yang ingin menekan Moskow terkait perang di Ukraina.
Solar Rusia ke AS Jadi Pemicu Pelonggaran
Langkah Trump menyusul kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengekspor solar ke Amerika Serikat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai keputusan Washington itu merugikan Kyiv.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump akan memakai waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi dari pemberian pengecualian tersebut. Tenggat itu menjadi penanda apakah pelonggaran bersifat sementara atau berlanjut.
Bagi pelaku pasar energi, sinyal yang paling ditunggu adalah volume ekspor riil Rusia dalam beberapa pekan ke depan. Penambahan pasokan dari Rusia berpotensi menekan harga lebih lanjut, tetapi besarnya tergantung pada kapasitas logistik dan respons pembeli di Asia.
Pasokan Teluk Anjlok Jadi 8,5 Juta Barel per Hari
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah menahan penurunan harga lebih dalam. Serangan terhadap kapal-kapal komersial memangkas aliran minyak mentah dari kawasan Teluk secara tajam.
Berdasarkan rata-rata tujuh hari pada pekan lalu, aliran minyak dari Teluk turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Data itu berasal dari perusahaan analitik Kpler pada Jumat.
Kpler mencatat sedikitnya 10 insiden yang melibatkan kapal komersial terkonfirmasi terjadi sepanjang pekan lalu. Ancaman terhadap keselamatan pelayaran membuat premi risiko pasokan tetap tinggi.
Eskalasi Militer di Timur Tengah Belum Mereda
Ketegangan kawasan berpotensi meningkat setelah Mesir menyatakan siap memberikan dukungan yang dibutuhkan Arab Saudi untuk mempertahankan keamanan dan stabilitasnya dari kelompok Houthi Yaman.
Pernyataan Kairo menambah lapisan risiko geopolitik yang selama ini menjadi penopang harga minyak. Setiap eskalasi baru berpotensi memicu lonjakan harga, meski pasokan dari Rusia mulai longgar.
Kombinasi dua faktor berlawanan itu membuat pasar minyak bergerak dalam rentang sempit. Pelonggaran sanksi Rusia menekan harga ke bawah, sementara gangguan pasokan Teluk dan ancaman militer menahan pelemahan lebih jauh.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Usaha
Untuk emiten energi dalam negeri, penurunan harga Brent berdampak ganda. Di satu sisi menekan pendapatan ekspor migas, di sisi lain meringankan biaya bahan baku bagi industri pengolahan dan transportasi.
Pemerintah juga punya kepentingan langsung karena asumsi harga minyak Indonesia dalam APBN memengaruhi belanja subsidi dan kompensasi energi. Harga di kisaran US$108 per barel masih di atas banyak asumsi makro yang dipakai tahun ini.
Bagi investor saham, arah harga minyak dalam 60 hari ke depan akan bergantung pada hasil kajian Washington atas dampak ekonomi pengecualian sanksi. Sinyal dari Rubio soal tenggat tersebut menjadi acuan penting sebelum pasar menentukan posisi.