SAMARINDA — Kepala BPS Kalimantan Timur Mas'ud Rifai menyampaikan nilai ekspor provinsi itu pada Agustus 2026 mencapai 1,88 miliar dolar AS. Angka tersebut turun 3,6 persen dibanding Juli 2026, tetapi masih tumbuh 2,85 persen secara tahunan. Penurunan bulanan tidak menggoyang posisi Kaltim sebagai salah satu penyumbang surplus dagang terbesar di Indonesia.
Struktur ekspor Kaltim tetap bertumpu pada sektor nonmigas. Kontribusinya mencapai 95,40 persen dari total ekspor Agustus 2026, sementara migas hanya menyumbang sisanya.
Pertambangan Masih Kuasai Ekspor Kaltim
Menurut sektor, ekspor pertambangan dan lainnya menembus 1,24 miliar dolar AS atau 65,77 persen dari total. Sektor industri pengolahan menyusul dengan 557,17 juta dolar AS.
Ekspor migas tercatat 86,63 juta dolar AS, sedangkan pertanian hanya 0,15 juta dolar AS. Komposisi ini menegaskan ketergantungan Kaltim pada komoditas tambang dan produk olahan turunannya.
"Secara umum struktur ekspor menurut sektor di Provinsi Kalimantan Timur didominasi oleh ekspor nonmigas dengan kontribusi sebesar 95,40 persen dari total ekspor pada bulan Agustus 2026," ujar Mas'ud.
Tiongkok, India, dan Filipina Jadi Tujuan Utama
Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Kaltim dengan nilai 464,37 juta dolar AS atau 25,88 persen dari total. India mengikuti dengan 267,42 juta dolar AS, lalu Filipina 206 juta dolar AS.
"Untuk tujuan ekspor nonmigas, Tiongkok menjadi negara tujuan utama dengan nilai 464,37 juta dolar AS atau 25,88 persen dari total ekspor. Berikutnya India dengan 267,42 juta dolar AS dan Filipina sebesar 206 juta dolar AS," ucap Mas'ud.
Ketiga negara itu menyerap lebih dari separuh ekspor nonmigas Kaltim. Artinya, fluktuasi permintaan di Asia menjadi faktor penentu bagi kinerja dagang daerah.
Impor Melonjak 91,35 Persen secara Tahunan
Di sisi impor, Kaltim membukukan 594,06 juta dolar AS pada Agustus 2026. Nilainya turun 15,94 persen dibanding Juli 2026, tetapi melesat 91,35 persen dibanding Agustus 2025.
Bahan baku dan penolong mendominasi impor dengan nilai 575,42 juta dolar AS. Lonjakan tahunan ini menunjukkan aktivitas industri pengolahan di Kaltim kembali bergeliat.
Surplus 1,29 miliar dolar AS pada Agustus 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Namun, capaian itu belum menyamai surplus Agustus 2025 yang tercatat lebih besar.