Pencarian

Gagal ke Perdelapan Final, Tim Basket 3x3 Indonesia Akui Keunggulan China

Sabtu, 26 September 2026 • 21:05:31 WIB
Gagal ke Perdelapan Final, Tim Basket 3x3 Indonesia Akui Keunggulan China
Timnas basket putra 3x3 Indonesia tersingkir di fase play-in Asian Games 2026 setelah kalah 10-21 dari China.

KALIMANTAN TIMUR — Timnas basket putra 3x3 Indonesia tersingkir di fase play-in Asian Games 2026 setelah menyerah 10-21 dari China. Kekalahan itu membuat target awal menembus perdelapan besar tidak terpenuhi, sekaligus menutup peluang membawa pulang medali dari Aichi-Nagoya.

Daffa Dhoifullah, Erick Junior, Aymane Arip, dan Halmaheranno Hady harus mengakui ketangguhan lawan pada laga penentuan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (26/9/2026). Skor 10-21 menegaskan jarak level antara Indonesia dan China di nomor 3x3 putra.

Hasil itu bukan sekadar kekalahan biasa. Fase play-in adalah pintu terakhir menuju perdelapan besar, dan Indonesia gagal melewatinya meski sudah tampil kompak sepanjang pertandingan.

Target Perdelapan Besar Pupus di Play-in

Erick Junior mengungkapkan bahwa timnya sebenarnya memasang target lebih tinggi dari yang berhasil dicapai. Menembus perdelapan besar menjadi ukuran minimal sebelum turnamen bergulir.

"Targetnya kemarin sih ya kita sampai (menang) di play-in, perdelapan besar sebenarnya. Cuma kita kan gak sampai perdelapan besar. Tapi dapat sampai masuk ke play-in, ke babak selanjutnya kan. Jadi ya untuk target ke depannya semoga bisa semifinal atau ya syukur-syukur juara," ungkap Erick Junior.

Pernyataan itu disampaikan setibanya rombongan di Tanah Air. Nada kecewa bercampur harapan tetap terdengar dari pemain Dewa United tersebut.

Angin dan Fisik Lawan Jadi Kendala di Lapangan

Faktor nonteknis turut memengaruhi permainan Indonesia. Erick menyebut kondisi angin di venue menjadi salah satu penghambat, terutama karena 3x3 dimainkan di lapangan terbuka.

"Dari ada kendala angin, kita melawan musuh yang lebih keras. Ya kesulitannya biasa, yang sebenarnya bisa dilewati juga," ujarnya.

Meski demikian, Erick tidak menjadikan angin sebagai alasan tunggal. Ia menilai tekanan fisik dan intensitas permainan China berada di level berbeda dibanding lawan-lawan sebelumnya.

China Menang Meski Kehilangan Satu Pemain

Situasi pertandingan sebenarnya sempat membuka peluang. China bermain dengan tiga pemain dalam satu periode, sementara Indonesia menurunkan empat orang.

Keunggulan jumlah itu tidak berbuah poin. China justru tampil efektif dari luar garis dua poin, yang menjadi pembeda utama di laga tersebut.

"Iya, padahal mereka lagi down satu orang kan, mereka jadi tiga lawan empat hitungannya. Cuma mereka juga field goal-nya lagi bagus dari dua poin. Terus mereka juga ya emang levelnya agak di atas kita sih. Jadi kita butuh mengejar itu," kata Erick.

Akurasi tembakan dua poin China membuat selisih skor melebar. Indonesia kesulitan mengejar karena setiap kesalahan langsung dihukum menjadi poin lawan.

Evaluasi Menanti Setibanya di Indonesia

Kegagalan di play-in memunculkan sejumlah pekerjaan rumah bagi tim putra 3x3. Erick memastikan evaluasi akan dilakukan setelah seluruh pemain kembali ke klub masing-masing.

"Pasti akan ada evaluasi setelah ini," katanya singkat.

Beberapa aspek yang kemungkinan dibenahi mencakup akurasi tembakan dua poin, adaptasi terhadap kondisi lapangan luar ruangan, serta kesiapan fisik menghadapi tim-tim level atas Asia. Pengalaman di Aichi-Nagoya menjadi modal berharga menuju agenda berikutnya, termasuk persiapan menuju SEA Games dan kualifikasi turnamen FIBA 3x3.

Follow kaltimnow.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks