Pencarian

Pakar Ungkap Keterampilan Bertahan Hidup Hadapi Bencana Besar

Kamis, 15 Oktober 2026 • 12:53:32 WIB
Pakar Ungkap Keterampilan Bertahan Hidup Hadapi Bencana Besar
Ahli respons publik dari Liverpool John Moores University, Kezia Barker, menilai keterampilan praktis lebih menentukan keselamatan dibanding timbunan logistik saat bencana besar.

KALIMANTAN TIMUR — Ahli respons publik dari Liverpool John Moores University, Kezia Barker, menilai keterampilan praktis lebih menentukan keselamatan dibanding timbunan logistik saat bencana besar terjadi. Barker menyebut belajar bertani, mengawetkan makanan, mencari pangan liar, hingga mengukir sendok kayu bisa dimulai sebagai hobi harian. Kemampuan adaptif itu dinilai berguna bukan hanya saat krisis, tetapi juga ketika internet dan rantai pasok terganggu.

Kezia Barker menekankan bahwa persediaan makanan dan bunker bawah tanah hanya memperpanjang waktu bertahan, bukan menjamin kelangsungan hidup. Ketika peradaban lumpuh, kemampuan memanfaatkan sumber daya sekitar dan membaca situasi yang menentukan siapa yang bisa melewati masa kritis. Barker berbicara dari kajiannya terhadap komunitas penyintas yang aktif mendiskusikan strategi bertahan.

Pertolongan Pertama Jadi Bekal Utama

Menurut Barker, orang yang pandai memanfaatkan sumber daya, mudah beradaptasi, dan serba bisa adalah aset paling berharga dalam kelompok bertahan hidup. Kemampuan itu dilatih lewat keterampilan pertolongan pertama, yang mengajarkan pengelolaan darurat secara bertahap.

"Ini tidak hanya memberikan Anda keterampilan medis dasar pertolongan pertama, tetapi yang terpenting adalah tetap tenang dalam keadaan darurat, mengamati lingkungan dan situasi, lalu memprioritaskan tindakan Anda," ujar Barker, dikutip dari Daily Mail, Kamis (15/10/2026).

Barker menambahkan, keterampilan tersebut tetap bermanfaat meski bencana besar yang ditakuti tidak pernah terjadi. Latihan pertolongan pertama membentuk disiplin pengambilan keputusan di bawah tekanan, keterampilan yang berlaku di banyak situasi sehari-hari.

Bertani dan Mengawetkan Pangan

Soal pangan, Barker menilai belajar menanam dan mengawetkan makanan adalah langkah awal yang paling masuk akal. Bagi yang tidak punya lahan, kebun komunitas bisa menjadi tempat belajar menghasilkan pangan di ruang terbatas.

Teknik pengawetan dan pengasinan tradisional disebut Barker sebagai hobi paling mudah dimulai. Penguasaan cara ini mengajarkan perhitungan soal daya tahan bahan, penghematan persediaan, dan bahan mana yang cepat rusak.

"Ini mengajarkan Anda tentang cara bertahan hidup dalam kondisi kekurangan, bagaimana menghemat persediaan, apa yang mudah rusak dan apa yang dapat disimpan," kata Barker.

Mencari Pangan Liar, Tanpa Andalkan AI

Alternatif lain adalah belajar mencari makanan di alam liar. Barker menyarankan mempelajari tanaman yang dapat dimakan di sekitar tempat tinggal sekaligus membiasakan diri membaca tanda-tanda alam.

Kebiasaan itu, menurut Barker, membantu meredakan kecemasan ekologis karena waktu di alam dan keterhubungan dengan ritme alami bersifat menenangkan. Aktivitas ini juga mendorong kepedulian terhadap lingkungan setempat.

Barker memberi peringatan keras soal penggunaan alat identifikasi foto berbasis AI sebagai jalan pintas saat mencari pangan liar. Selain berisiko serius keracunan, ketergantungan pada aplikasi membuat keahlian manusia tidak berguna ketika internet mati.

Mengukir Sendok, Latihan Berpikir Sistematis

Barker menyoroti seni mengukir atau membuat sendok sendiri sebagai keterampilan yang lebih berguna daripada yang terlihat. Dalam skenario pasca-bencana, manusia tetap membutuhkan peralatan kayu, ranting untuk menyalakan api, atau pasak pengganti tenda.

Proses mengukir mengajarkan keterampilan menangani pisau dengan aman, kepekaan terhadap bahan, dan cara memecahkan masalah dengan sumber daya terbatas. Barker menyebut latihan itu menumbuhkan keyakinan bahwa seseorang mampu membuat sesuatu sendiri.

"Anda diajarkan untuk berpikir tentang bagaimana menggunakan berbagai bahan untuk memecahkan berbagai masalah, dan meyakinkan diri bahwa Anda dapat membuat sesuatu sendiri," tutup Barker.

Bukan Sekadar Simulasi Kiamat

Keterampilan yang dibahas dalam forum-forum penyintas itu sering disebut sebagai kemampuan menghadapi kiamat zombie. Barker menilai istilah tersebut merangkum satu gagasan: kesiapan menghadapi ketidakamanan lingkungan tidak dibangun dari barang, melainkan dari kompetensi.

Pendekatan itu sejalan dengan kebutuhan rumah tangga di Indonesia yang rutin menghadapi gempa, banjir, dan gangguan pasokan pangan. Komunitas kebun kota dan pelatihan pertolongan pertama dasar di lingkungan RT bisa menjadi pintu masuk paling praktis untuk mulai membangun kesiapan tersebut.

Follow kaltimnow.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks