SAMARINDA — Hasil penelitian Brida Kaltim menunjukkan akumulasi karbon pada ekosistem lamun didominasi penyimpanan di lapisan sedimen bawah air yang stabil dalam jangka panjang. Angka 383 ton per hektare itu tercatat pada salah satu titik pengamatan di pesisir Kalimantan Timur.
Padang lamun selama ini kalah populer dibanding hutan mangrove dalam perbincangan soal penyerapan emisi. Padahal, ekosistem ini tercatat mampu menyerap karbon jauh lebih cepat dibanding hutan tropis daratan.
Mengapa Padang Lamun Lebih Efektif Menyimpan Karbon
Tim peneliti Brida Kaltim menjelaskan bahwa kemampuan lamun menyerap CO2 mencapai 35 kali lebih cepat dibanding hutan tropis daratan. Karbon yang tersimpan di sedimen dasar laut tidak mudah lepas kembali ke atmosfer selama ekosistemnya utuh.
Selain fungsi penyerapan karbon, padang lamun menjaga kualitas air laut dan menjadi habitat biota laut bernilai ekonomis bagi nelayan setempat. Kondisi ini membuat pelestarian kawasan pesisir berdampak langsung pada keberlanjutan sumber daya ikan.
Modal Kaltim di Skema Perdagangan Karbon
Kalimantan Timur sedang gencar mengoptimalkan skema perdagangan karbon. Validasi lapangan soal potensi karbon biru dari sektor pesisir dinilai menambah nilai tawar daerah untuk mendapatkan dana kompensasi karbon internasional.
Data riset ini akan diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK). Langkah tersebut mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.
Ancaman Kerusakan Pesisir dan Perlindungan Hukum
Tantangan terbesar pasca-riset adalah memastikan kawasan padang lamun mendapat status perlindungan hukum yang kuat. Aktivitas antropogenik masih menjadi ancaman kerusakan pesisir di sejumlah wilayah Kalimantan Timur.
Brida Kaltim berkomitmen menyajikan data sains yang akurat agar pengambilan keputusan di tingkat provinsi tidak lagi berbasis asumsi. Kolaborasi dengan universitas dan pegiat lingkungan akan terus diperkuat.
Pemanfaatan potensi karbon biru diharapkan berdampak pada aspek ekologi sekaligus ekonomi masyarakat pesisir melalui program pemberdayaan. Lingkungan yang terjaga menjamin ketersediaan sumber daya ikan yang melimpah.
Keterlibatan aktif warga lokal menjadi kunci agar cadangan karbon di bawah laut tersebut tidak lepas kembali ke atmosfer akibat kerusakan ekosistem.