KALIMANTAN TIMUR — Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama dalam konferensi pers menyatakan, analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu,” ujarnya.
Tiga Sesar Aktif Mengintai Palu, Bukan Hanya Palu-Koro
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menambahkan, kawasan Palu dan sekitarnya memiliki kompleksitas tektonik tinggi. “Memang di daerah Palu itu banyak sekali sumber gempa atau sesar-sesar aktif seperti di Sesar Sausu, di situ ada Sesar Ampana, ada Sesar Palu-Koro, itu banyak sekali,” tuturnya.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan asumsi publik yang selama ini hanya menyoroti Sesar Palu-Koro, pemicu gempa dahsyat 2018 yang memicu likuifaksi dan tsunami. BMKG menegaskan gempa kali ini tidak membentuk sesar baru.
Potensi Likuifaksi dan Kerusakan Infrastruktur
BMKG mewaspadai potensi likuifaksi pascagempa, mengingat karakteristik tanah di Palu yang rentan. Dampak langsung sudah terlihat: Jembatan Palu III ditutup total karena mengalami kerusakan struktural, melumpuhkan aktivitas warga di titik penghubung vital tersebut.
Tim BMKG terus memantau aktivitas susulan. Masyarakat diimbau tidak terpancing informasi yang mengaitkan gempa ini semata-mata dengan Sesar Palu-Koro, karena sumber gempa di Sulteng jauh lebih beragam.