KALIMANTAN TIMUR — Keresahan terhadap Discord bukan barang baru. Selama bertahun-tahun, keluhan soal langganan Nitro yang mahal dan tekanan investor untuk terus tumbuh sudah sering terdengar. Tapi pemicu eksodus besar-besaran tahun ini adalah kebijakan verifikasi usia yang dianggap terlalu invasif.
Kebijakan Verifikasi Usia Picu Kebocoran Data Massal
Pada Februari 2026, Discord mengumumkan paket fitur keamanan remaja baru untuk mengikuti Undang-Undang Keamanan Online Inggris. Sistem bernama "Teen Default Experience" ini mewajibkan pengguna yang diduga di bawah umur untuk mengirim video selfie dan dokumen identitas ke mitra pihak ketiga.
Meski Discord menjamin selfie tidak akan meninggalkan perangkat dan dokumen identitas tidak disimpan mitranya, protes keras langsung muncul. Situasi makin runyam ketika salah satu penyedia layanan pihak ketiga Discord diretas pada Oktober 2025, yang berpotensi membocorkan KTP hingga 70.000 pengguna.
Akibat tekanan, Discord menunda peluncuran sistem tersebut ke paruh kedua 2026 dan berjanji menambah opsi verifikasi lain. Namun, celah keamanan data sudah telanjur terjadi.
Stoat: Wajah Discord Tanpa Langganan
Stoat, yang sebelumnya dikenal sebagai Revolt, adalah aplikasi open-source yang tampilannya paling mirip Discord. Platform ini mendukung chat teks, panggilan suara, panggilan video, dan mulai tahun ini sudah merilis fitur berbagi layar untuk bermain game bareng teman.
Pengguna bisa memilih server di-host oleh Stoat secara gratis, atau menjalankannya sendiri (self-host) dengan sedikit pengaturan. Stoat juga menyediakan dukungan tema kustom, emoji kustom, dan sistem moderasi berbasis peran yang memudahkan migrasi komunitas dari Discord. Aplikasi ini tersedia di web, Linux, Windows, macOS, Android, iOS, dan iPadOS.
Element: Enkripsi End-to-End untuk Pengguna Serius
Element tampil lebih profesional dibanding Stoat. Aplikasi ini menawarkan opsi self-host gratis dan layanan berbayar untuk pelanggan enterprise dan pemerintahan. Keunggulan utamanya adalah enkripsi end-to-end yang melindungi semua percakapan.
Element mendukung chat teks, panggilan suara dan video, berbagi layar, berbagi file, hingga berbagi lokasi di aplikasi mobile. Bedanya dengan Discord, Element tidak mendukung emoji kustom secara bawaan, tapi pengguna bisa bebas mengatur tema aplikasi. Karena dibangun di atas protokol Matrix yang transparan dan terbuka, Element juga bisa saling terhubung dengan aplikasi Matrix lain seperti Fluxxer dan Cinny.
Mana yang Lebih Cocok untuk Pengguna Indonesia?
Bagi yang ingin pengalaman paling mirip Discord tanpa ribet, Stoat adalah pilihan paling praktis. Tampilannya familier, fitur lengkap, dan bisa langsung dipakai tanpa perlu menyiapkan server sendiri.
Sementara Element lebih cocok untuk komunitas yang mementingkan privasi dan keamanan data tingkat tinggi. Enkripsi end-to-end dan protokol Matrix yang terbuka membuatnya ideal untuk grup diskusi yang sensitif atau organisasi yang butuh kendali penuh atas infrastruktur chat mereka.
Yang jelas, baik Stoat maupun Element sama-sama menawarkan satu hal yang mulai langka di era Discord: kendali penuh pengguna atas data dan fitur tanpa drama langganan.