PENAJAM PASER UTARA — Pembangunan Ibu Kota Nusantara tidak hanya soal beton dan baja. Di balik proyek fisik yang menjulang, ada upaya membangun fondasi sumber daya manusia lewat pintu kelas. Program penguatan literasi dan numerasi yang dirancang Kemendikdasmen bersama OIKN, didukung Program INOVASI Kemitraan Pemerintah Indonesia–Australia, menjadi salah satu tulang punggungnya.
Guru Berubah, Murid Lebih Percaya Diri
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, mengatakan dampak program sudah terasa. Guru tidak lagi sekadar berceramah di depan kelas. Mereka mulai memahami kebutuhan belajar setiap anak secara lebih mendalam.
"Asesmen tidak lagi hanya berfungsi untuk mengukur hasil akhir pembelajaran, tetapi menjadi dasar dalam merancang strategi mengajar yang lebih tepat sasaran," ujar Alimuddin.
Pembelajaran pun menjadi lebih kontekstual. Materi dikaitkan dengan lingkungan sekitar agar siswa paham bahwa apa yang mereka pelajari punya kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Kepala Sekolah Jadi Pemimpin Pembelajaran
Perubahan tidak hanya terjadi pada guru. Kepala sekolah dan pengawas juga berubah. Mereka tidak lagi sibuk dengan urusan administrasi semata, melainkan aktif mendampingi proses belajar di kelas.
“Inilah inti dari perubahan. Membangun sistem pendidikan yang berpusat pada peningkatan mutu, bukan sekadar memenuhi target formalitas,” kata Alimuddin.
Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menambahkan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari frekuensi pelatihan, melainkan dari dampak nyata pada peserta didik. Anak-anak di Sepaku kini lebih berani membaca, lebih cepat memahami isi bacaan, dan lebih terampil berhitung.
Visi Besar: SDM Unggul untuk Kota Masa Depan
Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa IKN dirancang sebagai kota masa depan. Karena itu, pembangunan SDM harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik.
Menurutnya, literasi dan numerasi adalah fondasi agar generasi mendatang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan tantangan zaman.
Salah satu pendidik yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Sarina, Ketua Kelompok Kerja Guru Gugus 2 Kecamatan Sepaku. Ia menilai pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada teori. Para guru didampingi hingga benar-benar mampu menerapkannya di kelas.
“Lingkungan belajar menjadi lebih menyenangkan dan anak-anak pun semakin percaya diri,” kata Sarina.
Ia berharap model pendampingan seperti ini bisa diterapkan di lebih banyak sekolah agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan menjadi unggul bersama.