SAMARINDA — Sebanyak 65.000 paket seragam gratis akan dibagikan kepada siswa baru di Kalimantan Timur. Program ini mencakup jenjang SMA, SMK, dan SLB di seluruh provinsi.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin, mengatakan kebijakan ini merupakan wujud kehadiran pemerintah daerah dalam pemerataan akses pendidikan. "Fokus utama kita adalah menghilangkan kecemasan keluarga sehingga anak-anak generasi penerus Kaltim bisa memusatkan konsentrasinya secara penuh pada proses belajar mengajar," ujarnya di Samarinda, Jumat.
Aturan Seragam Selama Masa Transisi
Selama proses distribusi paket bantuan berlangsung, pihak dinas memberikan kelonggaran aturan. Siswa baru tidak diwajibkan menggunakan seragam nasional putih abu-abu seperti biasanya.
"Sebagai alternatif selama masa transisi pembelajaran, para peserta didik diperbolehkan menggunakan seragam batik dari sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar setiap Senin dan Selasa," kata Armin.
Langkah ini bertujuan agar siswa dari keluarga prasejahtera tidak merasa terbebani atau kehilangan hak belajarnya pada awal tahun ajaran baru.
Larangan Keras Jual Atribut Sekolah
Untuk menjamin efektivitas program, pemprov secara tegas melarang seluruh satuan pendidikan memperjualbelikan kelengkapan pakaian sekolah kepada wali murid. Atribut seperti baju, celana, dan perlengkapan lainnya sudah terangkum dalam paket bantuan gratis pemerintah.
"Kami menginstruksikan dengan tegas kepada pihak sekolah agar tidak mengomersialkan atribut apa pun yang sejatinya sudah terangkum di dalam paket bantuan gratis pemerintah," tutur Armin.
Pelanggaran terhadap aturan ini akan dikenakan sanksi, meskipun pihak dinas belum merinci bentuk sanksi yang akan diberikan.
Memangkas Hambatan Ekonomi Orang Tua
Pemenuhan fasilitas dasar secara cuma-cuma ini merupakan langkah konkret daerah untuk memangkas hambatan ekonomi yang kerap dialami masyarakat saat menyekolahkan anak. Biaya seragam kerap menjadi beban tambahan di awal tahun ajaran, terutama bagi keluarga dengan lebih dari satu anak sekolah.
Kehadiran program ini diharapkan mampu menghapus kesenjangan sosial di lingkungan pendidikan. Dengan seragam yang sama, siswa dari berbagai latar belakang ekonomi bisa mengikuti proses belajar tanpa stigma.
Pemprov Kaltim menargetkan program serupa bisa berkelanjutan setiap tahun ajaran baru demi mencetak sumber daya manusia daerah yang berdaya saing.