SAMARINDA — Sebanyak 3.400 mahasiswa KKN dari sembilan universitas di Kalimantan Timur kini menjadi ujung tombak edukasi kebencanaan di tingkat desa. Mereka dilibatkan oleh BPBD Kaltim untuk menghimpun data empiris sekaligus menyadarkan warga akan bahaya karhutla dan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Kami berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa serta pihak universitas agar adik-adik mahasiswa KKN mengambil peran tematik terkait data kebencanaan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan di Samarinda, pekan lalu.
Data dari Tapak untuk Strategi Mitigasi Tepat Sasaran
Data yang dikumpulkan para mahasiswa akan diolah dan dikaji BPBD sebagai dasar perumusan strategi mitigasi yang sesuai kondisi lapangan. Menurut Buyung, pendekatan ini efektif memperkuat struktur pencegahan bencana dari level terbawah, sejalan dengan target pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di seluruh Kaltim.
“Dengan basis data dari mahasiswa KKN, kami bisa lebih optimal menampung informasi untuk dikaji, sehingga penanganan dan mitigasi bencana berjalan selaras dengan kearifan lokal masing-masing daerah,” ujarnya.
Fokus pada Karhutla dan Kesadaran Warga
Musim kemarau panjang menjadi tantangan tersendiri. Buyung menyebut faktor kelalaian manusia masih menjadi pemicu utama karhutla. Mahasiswa KKN diharapkan mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar tanpa standar keamanan, seperti ketersediaan sumber air dan penjagaan api.
Lewat edukasi langsung dari rumah ke rumah, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap prosedur aman. BPBD juga mengimbau warga segera melaporkan titik api darurat melalui Call Center 112 yang beroperasi 24 jam.
Sinergi Lintas Sektor Perkuat Destana
Langkah pelibatan akademisi ke tengah masyarakat dinilai efektif untuk membangun kesiapsiagaan dari tapak. Selain mahasiswa, BPBD Kaltim terus menggandeng pemerintah desa dan relawan kebencanaan untuk memperluas cakupan mitigasi. Program Destana sendiri menargetkan setiap desa di Kaltim memiliki peta risiko dan rencana evakuasi mandiri.
Dengan ribuan agen mitigasi muda yang tersebar di berbagai kampung, pemerintah optimistis data kebencanaan lebih akurat dan respons terhadap karhutla bisa lebih cepat.