SAMARINDA — Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto mengungkapkan bahwa perubahan tingkat pendapatan masyarakat secara langsung memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Menurutnya, aspek ekonomi menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi peningkatan kualitas sumber daya manusia dibandingkan indikator pendidikan maupun kesehatan.
“Pendidikan memang gratis, tetapi masih ada biaya transportasi, seragam, dan kebutuhan penunjang lainnya. Kalau ekonomi keluarga membaik, kemampuan orang tua mendukung pendidikan anak juga meningkat,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
IPM Samarinda Naik, Tapi Angka Partisipasi Masih Timpang
BPS mencatat IPM Kota Samarinda pada 2025 mencapai 83,53, naik dari 83,11 pada tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan akses pendidikan di semua lapisan masyarakat.
Rata-rata lama sekolah penduduk Samarinda saat ini mencapai 11,4 tahun atau setara kelas XI SMA. Sementara itu, harapan lama sekolah berada di angka 15,41 tahun, setara dengan pendidikan diploma.
Bukan Sekadar Sekolah Tersedia, Tapi Mampu Bertahan
Supriyanto menilai peningkatan indikator pendidikan ke depan tidak akan setinggi sebelumnya karena akses pendidikan di Samarinda sudah relatif merata. Tantangan berikutnya justru memastikan anak-anak tidak putus sekolah akibat kondisi ekonomi keluarga.
“Sekarang tantangannya bukan hanya menyediakan sekolah, tetapi memastikan anak-anak tidak berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan manusia harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendorong kualitas sumber daya manusia.
“Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ketika ekonomi keluarga membaik, kesempatan anak untuk menyelesaikan pendidikan juga akan semakin besar,” tutup Supriyanto.