SAMARINDA — Komisi IV DPRD Kalimantan Timur tidak ingin infrastruktur pengendali banjir di Samarinda hanya menjadi proyek tanpa pemeliharaan. Buktinya, Ketua Komisi IV Baba langsung turun ke lapangan melakukan sidak ke Bendali HM Ardans, salah satu titik krusial pengendali debit air di ibu kota provinsi.
Sidak yang dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim ini menyasar potensi rembesan di struktur bendali. Menurut Baba, rembesan kecil yang tidak terdeteksi bisa berkembang menjadi kerusakan besar saat volume air sungai naik.
Potensi Rembesan Jadi Fokus Utama Pengecekan
"Kami ingin memastikan secara langsung kondisi fisik Bendali HM Ardans. Jangan sampai ada kebocoran atau rembesan yang tidak terlihat dari laporan rutin. Ini soal keselamatan warga di sekitar bantaran," ujar Baba saat ditemui di lokasi sidak, belum lama ini.
Pengecekan difokuskan pada sambungan struktur beton, area pintu air, dan bagian bawah bendali yang rawan tergerus arus. Tim teknis dari PUPR turut mengukur tingkat sedimentasi di sekitar bendali, yang selama ini menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya kapasitas tampung air.
Bendali HM Ardans: Garda Depan Pengendali Banjir Samarinda
Bendali HM Ardans merupakan salah satu infrastruktur vital yang membentang di kawasan padat penduduk Samarinda. Fungsinya membatasi luapan air Sungai Mahakam saat pasang atau hujan deras, melindungi ribuan rumah di kelurahan sekitarnya.
Baba menambahkan, hasil sidak ini akan langsung dibawa ke rapat dengar pendapat dengan Dinas PUPR untuk membahas anggaran perbaikan dan perawatan berkala. "Kami tidak ingin reaktif. Begitu ada temuan di lapangan, kami dorong agar perbaikan dilakukan sebelum bencana terjadi," tegasnya.
Kolaborasi DPRD, PUPR, dan BPBD untuk Mitigasi Tepat Sasaran
Keterlibatan BPBD dalam sidak ini dinilai strategis. Data potensi kerusakan infrastruktur bisa langsung diintegrasikan dengan peta rawan bencana yang dimiliki BPBD. Dengan begitu, langkah evakuasi dan peringatan dini bisa disusun lebih akurat jika bendali mengalami tekanan ekstrem.
Pihak PUPR Kaltim yang turut dalam sidak menyatakan akan menyusun laporan teknis dalam waktu dekat. Perbaikan kecil, seperti penambalan retakan dan pembersihan endapan lumpur, ditargetkan rampung sebelum puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember mendatang.
Warga sekitar berharap sidak ini tidak berhenti pada seremoni. "Kami setiap tahun was-was kalau hujan turun terus. Semoga kali ini ada tindakan nyata, bukan cuma tinjauan saja," ujar seorang warga Kelurahan Sungai Pinang Luar yang enggan disebut namanya.