Pencarian

Asap Karhutla Belum Capai Jakarta, Ini Data Resmi BMKG

Rabu, 14 Oktober 2026 • 13:35:01 WIB
Asap Karhutla Belum Capai Jakarta, Ini Data Resmi BMKG
Peta sebaran asap BMKG menunjukkan Jakarta dan Jabodetabek tidak termasuk wilayah terdampak asap karhutla.

KALIMANTAN TIMUR — Peta sebaran asap BMKG menunjukkan Jakarta dan Jabodetabek tidak masuk area terdampak asap karhutla. Meski begitu, puluhan wilayah lain di Indonesia terpantau tertutup asap, bahkan sebagian menyebar hingga Malaysia dan Singapura.

Kualitas udara Jakarta memang belakangan jadi bahan perbincangan warganet. Banyak yang menduga polusi yang memburuk beberapa hari terakhir berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Dugaan itu lantas dijawab langsung oleh BMKG lewat data citra sebaran asap.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto memastikan, asap karhutla memang terdeteksi di banyak titik di Indonesia. Namun, Jakarta bukan salah satu wilayah yang terdampak.

Apa Kata BMKG soal Asap di Jakarta?

Guswanto menjelaskan, wilayah Jakarta dan Jabodetabek tidak masuk dalam area sebaran asap yang ditandai garis putus-putus berwarna merah muda pada peta BMKG.

"Terkait Jakarta, pada peta ini tidak terlihat wilayah Jakarta atau Jabodetabek masuk dalam area sebaran asap yang ditandai garis putus-putus berwarna merah muda," jelas Guswanto saat dihubungi detikcom, Rabu (14/10/2026).

Ia menambahkan, asap karhutla memang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia, bahkan sebagian menyebar hingga Malaysia dan Singapura akibat pola angin yang berlaku saat ini. "Namun, BMKG menegaskan bahwa asap tersebut belum terpantau mengarah ke Jakarta," pungkasnya.

Wilayah Mana Saja yang Terdampak Asap Karhutla?

Berdasarkan citra sebaran asap pada Rabu (14/10/2026), asap terdeteksi di 23 wilayah. Daftarnya mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.

Wilayah lain yang juga terpantau berasap meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Di sejumlah daerah tersebut, asap terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Arah angin di Indonesia secara umum memang bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.

Asap Lintas Batas Sampai ke Negara Tetangga

BMKG juga mendeteksi adanya transboundary haze atau asap lintas batas. Asap dari Sumatera bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, sementara asap dari Kalimantan mengarah ke Sarawak, Malaysia.

Selain itu, sebaran asap lintas batas terdeteksi dari Papua Nugini menuju Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Pola angin yang sedang berlaku membuat asap menyebar cukup jauh dari titik api asalnya.

Jadi, Apa Penyebab Polusi Jakarta?

Karena Jakarta tidak masuk area sebaran asap karhutla, memburuknya kualitas udara Ibu Kota perlu dilihat dari sumber lain. Polusi harian Jakarta umumnya berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembakaran terbuka di sekitar Jabodetabek.

Faktor cuaca juga berpengaruh. Saat kecepatan angin rendah dan kelembapan tinggi, polutan cenderung terperangkap di lapisan udara bawah sehingga konsentrasinya menumpuk dan terasa lebih pekat.

Untuk memantau kondisi terkini, ibu bisa mengecek situs resmi BMKG atau platform pemantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Jika indeks kualitas udara sedang buruk, sebaiknya batasi kegiatan outdoor si kecil dan gunakan masker saat bepergian.

Data BMKG ini menegaskan satu hal penting: tidak semua kabut atau udara keruh di Jakarta berasal dari karhutla. Dengan mengetahui sumbernya, langkah perlindungan untuk keluarga bisa lebih tepat sasaran.

Follow kaltimnow.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks