KALIMANTAN TIMUR — Efisiensi yang digenjot Danantara Indonesia di tubuh BUMN mulai menunjukkan dampak terukur. Selain PT Timah, sederet perusahaan negara lain seperti PT Pupuk Indonesia dan PT Bank Mandiri juga membukukan pertumbuhan laba dua digit pada paruh pertama tahun ini.
Managing Partner BUMN Research Group LM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Toto Pranoto, menilai kinerja solid masih ditopang oleh emiten-emiten besar yang menjadi motor pendapatan negara.
"Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Laba Bersih Melonjak di Berbagai Sektor Strategis
Laporan keuangan Semester I 2026 menunjukkan perbaikan yang merata. PT Pupuk Indonesia membukukan laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253 persen dari Rp2,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor semen juga ikut menguat, dengan PT Semen Indonesia mencatat kenaikan laba 196,5 persen menjadi Rp193,46 miliar.
Di sektor pangan, PT Agrinas Palma Nusantara tumbuh 150 persen dengan laba mencapai Rp890 miliar. Konsolidasi perkebunan strategis di bawah BUMN disebut menjadi faktor pendorong efisiensi di lini ini.
Bank pelat merah terbesar, PT Bank Mandiri, mencatat pertumbuhan laba 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun. Adapun PT Pertamina Geothermal Energy menorehkan pertumbuhan laba 15,5 persen menjadi 79,61 juta dolar AS, sejalan dengan pengembangan energi bersih nasional.
Emiten Sakit Bangkit dari Kerugian
Kabar baik juga datang dari perusahaan yang selama ini menjadi simbol beban struktural BUMN. PT Krakatau Steel berhasil keluar dari jerat kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba Rp150 miliar hingga Rp185 miliar. PT Kimia Farma juga membalikkan keadaan dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.
Kebangkitan dua perusahaan ini dinilai penting secara simbolis. Keduanya kerap dianggap merepresentasikan persoalan tata kelola dan operasional yang membelit BUMN selama bertahun-tahun.
Streamlining BUMN Perlu Dipercepat
Meski hasil positif mulai terlihat, Toto menilai pemerintah perlu mempercepat proses penataan jumlah perusahaan negara. Langkah streamlining dinilai akan membuat operasional BUMN semakin ramping dan fokus pada bisnis inti.
"Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," lanjut Toto.
Rangkaian capaian ini menjadi modal ekonomi yang kuat menjelang tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo. Konsolidasi ratusan entitas di bawah Danantara serta penegakan disiplin operasional dan tata kelola kini memiliki bukti konkret yang terukur, bukan sekadar wacana.