PENAJAM PASER UTARA — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memulai intervensi serius di sektor kesehatan akar rumput dengan membekali kader posyandu di wilayah IKN. Pelatihan yang menyasar pengelolaan keluarga sehat, kesehatan reproduksi, dan kehamilan sehat ini digelar di Sepaku, Penajam Paser Utara, sebagai upaya menurunkan prevalensi stunting yang masih berada di angka 18 persen.
Mengapa Kader Posyandu Jadi Garda Depan?
Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN Suwito menegaskan bahwa pengembangan SDM merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan ibu kota baru. "Tidak boleh lagi ada kelahiran stunting di IKN, sebagai upaya menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pembangunan ibu kota negara," ujarnya di Sepaku, Sabtu.
Kepala Puskesmas Maridan, Basiran, menimpali bahwa penguatan kader posyandu menjadi investasi penting. Sebab, para kader adalah pihak yang berinteraksi langsung dengan keluarga di tingkat akar rumput, menjadikan mereka ujung tombak deteksi dini dan pendampingan gizi.
Pendekatan Hulu ke Hilir: Cegah Sebelum Lahir
Penanganan stunting di IKN tidak hanya bersifat kuratif. Suwito menjelaskan bahwa strategi utama yang dijalankan adalah pencegahan dari hulu hingga hilir. Artinya, intervensi dimulai sejak masa reproduksi calon ibu, bukan setelah anak lahir dengan kondisi gagal tumbuh.
Pelatihan yang diberikan OIKN, menurut Seminawati, kader Posyandu Maridan, memberikan tambahan wawasan yang dapat langsung diterapkan saat mendampingi masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dilakukan secara berkelanjutan agar target bebas stunting bisa tercapai.
Kolaborasi Lintas Instansi untuk Perluas Jangkauan
Upaya ini tidak dilakukan sendiri oleh OIKN. Lembaga itu berkolaborasi dengan puskesmas setempat, pemerintah daerah, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), serta Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Keterlibatan berbagai pihak ini, menurut Suwito, membantu memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat di wilayah delineasi IKN.
Dengan pendekatan ini, OIKN berharap angka stunting yang saat ini masih berkisar 18 persen bisa ditekan drastis, seiring dengan kesiapan SDM generasi penerus yang akan membangun ibu kota negara di Kalimantan Timur.