PENAJAM — Kapolres Penajam Paser Utara (PPU) menghadiri langsung prosesi adat Aruh Ganal Laung Kuning di wilayah setempat. Dalam kesempatan itu, orang nomor satu di jajaran Polres PPU tersebut menegaskan bahwa seni dan tradisi lokal merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa yang kuat. Lebih dari sekadar ritual budaya, perhelatan adat ini dinilai menjadi instrumen penting dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Mengapa Tradisi Lokal Disebut Instrumen Kamtibmas?
Kehadiran Kapolres PPU di tengah-tengah warga yang menggelar Aruh Ganal bukan sekadar seremoni. Menurutnya, tradisi yang diwariskan turun-temurun ini mengikat masyarakat dalam norma dan nilai gotong royong. Ketika nilai-nilai itu dipegang teguh, potensi gesekan sosial bisa diminimalisir secara alami.
"Seni dan tradisi lokal merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa yang kuat, sekaligus menjadi instrumen penting kamtibmas," tegas Kapolres PPU di sela-sela acara.
Bukan Sekadar Ritual, tapi Perekat Sosial
Aruh Ganal Laung Kuning sendiri merupakan ritual adat yang sarat makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Acara ini biasanya digelar sebagai bentuk syukur atas hasil panen atau tolak bala. Kapolres menilai, kegiatan semacam ini justru menjadi ajang silaturahmi yang efektif antara aparat keamanan dan warga.
Dengan hadir langsung, polisi bisa mendengar aspirasi dan keluhan masyarakat secara lebih dekat. Situasi ini menciptakan hubungan yang lebih humanis, bukan sekadar hubungan formal antara aparat dan warga sipil.
Implikasi untuk Daerah Penyangga IKN
Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), stabilitas di PPU menjadi perhatian utama. Kapolres menekankan bahwa pendekatan kultural seperti ini justru lebih efektif daripada pendekatan represif. Ketika masyarakat merasa dihargai tradisinya, rasa memiliki terhadap keamanan lingkungan pun tumbuh dengan sendirinya.
Ke depannya, Polres PPU berencana untuk lebih sering terlibat dalam kegiatan adat dan budaya setempat. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pembangunan di IKN tidak mengikis jati diri budaya lokal, justru sebaliknya, memperkuatnya sebagai benteng pertahanan sosial.