Pencarian

Agus Setiawan, Pejuang Lingkungan dari PPU, Menolak Melupakan Akar Rumput di Tengah Deru Pembangunan IKN

Rabu, 27 Mei 2026 • 13:17:51 WIB
Agus Setiawan, Pejuang Lingkungan dari PPU, Menolak Melupakan Akar Rumput di Tengah Deru Pembangunan IKN
Agus Setiawan aktif menanam pohon di kawasan penyangga IKN sebagai upaya pelestarian lingkungan.

PENAJAM PASER UTARA — Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, Agus Setiawan sudah malang melintang sebagai penggiat lingkungan di Kabupaten Penajam Paser Utara. Lelaki kelahiran 15 Agustus 1996 ini memegang teguh prinsip bahwa pembangunan tidak boleh menghapus identitas alam dan budaya lokal. Ia adalah bukti bahwa generasi muda Kaltim tidak melupakan akar rumputnya.

Dari Buluminung, Menjaga Rimba di Tengah Proyek Raksasa

Agus lahir dan besar di Buluminung, sebuah kawasan yang kini berbatasan langsung dengan titik nol IKN. Alih-alih ikut urbanisasi atau bekerja di proyek konstruksi, ia memilih bergelut dengan isu lingkungan. Baginya, pembangunan IKN harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam, bukan malah menindihnya.

“Saya melihat banyak potensi konflik antara pembangunan dan lingkungan. Tapi saya yakin, anak muda seperti kami bisa menjadi jembatan,” ujar Agus saat ditemui di sela kegiatan penanaman pohon di kawasan penyangga IKN, beberapa waktu lalu.

Bukan Sekadar Aktivis, Tapi Sarjana Kehutanan yang Turun Tangan

Gelar Sarjana Kehutanan (S.Hut.) yang disandangnya bukan sekadar formalitas. Agus menerapkan ilmunya langsung di lapangan. Ia aktif mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya menjaga daerah aliran sungai dan hutan lindung yang menjadi paru-paru kota masa depan.

Pendekatannya pun unik. Agus tidak menggurui, melainkan mengajak warga menanam kembali lahan kritis dengan bibit tanaman produktif. Hasil panen nantinya bisa dinikmati warga sendiri, sehingga ada manfaat ekonomi langsung dari aksi lingkungan yang ia lakukan.

Potret Nyata: Putra Daerah yang Menolak Lupa

Kisah Agus menjadi kontras di tengah gelombang migrasi dan perubahan wajah PPU yang begitu cepat. Ia memilih menjadi pengingat bahwa pembangunan IKN tidak boleh melenyapkan identitas lokal. “Kami bukan anti-pembangunan. Kami ingin pembangunan itu hijau dan berkeadilan,” tegasnya.

Perjuangan Agus Setiawan adalah narasi perlawanan diam-diam terhadap eksploitasi. Sebuah cerita tentang seorang anak muda yang memilih pulang, bukan pergi, dan memilih menjaga, bukan merusak. Di tengah deru beton IKN, ia adalah oase yang terus tumbuh.

Bagikan
Sumber: kaltimpost.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks