SAMARINDA — Sebanyak 52 jiwa melayang di lubang bekas tambang yang dibiarkan terbuka tanpa pagar atau rambu di Kalimantan Timur. Data tersebut dirilis JATAM Kaltim bertepatan dengan peringatan Hari Anti Tambang 2026, yang tahun ini menyoroti persoalan keselamatan warga di sekitar area pertambangan.
Pemerintah Provinsi Tak Hadir dalam Diskusi Publik
Dalam forum diskusi yang digelar JATAM, para pegiat lingkungan menyayangkan absennya perwakilan dari Pemerintah Provinsi Kaltim. Padahal, pembahasan menyangkut tanggung jawab perusahaan tambang dan negara atas lubang-lubang yang belum direklamasi.
“Ini menunjukkan prioritas yang salah. 52 orang meninggal, tapi tidak ada satu pun pejabat pemprov yang datang mendengar langsung,” ujar Koordinator JATAM Kaltim dalam pernyataan yang diterima redaksi.
Polisi Buka Suara soal Penegakan Hukum
Menanggapi temuan JATAM, pihak kepolisian setempat akhirnya angkat bicara. Kapolres Kutai Kartanegara melalui Kasat Reskrim menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait beberapa lokasi lubang tambang yang memakan korban jiwa.
“Kami sudah melakukan olah tempat kejadian perkara di tiga titik berbeda. Untuk sementara, kami masih mendalami apakah ada unsur kelalaian dari pihak perusahaan,” jelas Kasat Reskrim Polres Kutai Kartanegara.
Fakta Singkat: 52 Korban Lubang Tambang di Kaltim
- Lokasi terbanyak: Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
- Korban: Sebagian besar warga setempat yang terjatuh saat mencari ikan atau melintas di malam hari.
- Kondisi lubang: Bekas galian tambang batu bara sedalam 10-30 meter tanpa pagar pengaman.
Mengapa Lubang Tambang Masih Terbuka?
JATAM mencatat, dari ribuan lubang tambang di Kaltim, hanya sebagian kecil yang sudah direklamasi sesuai aturan. Banyak perusahaan tambang yang telah habis masa kontraknya, namun meninggalkan lubang raksasa tanpa penutupan.
“Ini bukan soal uang. Ini soal nyawa. Negara harus hadir, bukan hanya diam,” tegas Koordinator JATAM Kaltim.
Hingga berita ini diturunkan, Pemprov Kaltim belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik JATAM dan data 52 korban jiwa tersebut.