SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan sektor ekonomi kreatif (ekraf) menjadi mesin pertumbuhan baru daerah. Target ini muncul di tengah dominasi industri pengolahan dan sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Kaltim.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni mengungkapkan, tren pertumbuhan sektor ini mulai memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan daerah.
Kontribusi Ekraf Kaltim Naik 1,3 Persen dalam Dua Tahun
Berdasarkan hasil penghitungan tim provinsi bersama akademisi, kontribusi ekonomi kreatif pada 2023 tercatat sebesar 5,61 persen dengan nilai tambah mencapai Rp29,43 triliun. Angka itu kemudian diperbarui dan pada 2025 melesat ke 6,9 persen.
"Nah target kita nanti di 2028, kita harus melakukan penghitungan kembali nilai kontribusi ekonomi kreatif Kaltim," ujar Sri Wahyuni saat ditemui di Creative Hub Temindung, Samarinda, Rabu (13/5/2026).
Kuliner Kuasai Pangsa Pasar, Disusul Fashion dan Kriya
Dari total kontribusi tersebut, tiga subsektor menjadi penyumbang terbesar. Subsektor kuliner mendominasi dengan nilai tambah Rp18,16 triliun. Disusul fashion sebesar Rp4,11 triliun dan kriya Rp2,91 triliun.
"Dengan data ini setidaknya menjadi reminder bagi kita bahwa kuliner, fashion dan kriya itu kekuatan Kaltim," jelas Sri Wahyuni.
Menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim ini, belanja masyarakat untuk kuliner dan fashion tetap bergerak meskipun kondisi ekonomi tengah fluktuatif. "Fashion ini memang enggak ada matinya," katanya.
Desainer Muda dan Modest Fashion Mulai Tumbuh
Sri Wahyuni menyoroti mulai bermunculannya desainer-desainer baru di Kaltim, terutama pada subsektor modest fashion yang belakangan makin diminati. "Saat festival syariah kemarin, modest fashion itu mulai digemari dengan banyak sekali desainer-desainer kita yang baru. Ini fashion tumbuh sangat baik," bebernya.
Pemprov Kaltim Siapkan Ekosistem Bahan Baku Kuliner
Pemprov Kaltim mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif, mulai dari pemetaan data, kolaborasi, hingga menjaga ketersediaan bahan baku untuk subsektor unggulan. "Kalau begitu ruang-ruang ekosistem bahan baku untuk kuliner harus disiapkan dengan baik. Jangan sampai kuliner tumbuh, tapi kita kekurangan bahan baku dan harga naik sehingga mengurangi nilai tambah," tegas Sri Wahyuni.
Ia juga berharap kabupaten dan kota di Kaltim mulai menyusun indikator kinerja ekonomi kreatif masing-masing. "Harapannya, indikator kinerja ekonomi kreatif itu bisa disusun agar kita tahu nih, berapa kontribusinya untuk Kaltim," pungkasnya.