KALIMANTAN TIMUR — Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan bahwa wilayah Jakarta bagian utara telah memasuki musim kemarau sejak Mei, sementara Jakarta bagian selatan menyusul pada Juni-Juli. Kehadiran El Nino memperpanjang periode kering tersebut.
"Secara umum di DKI dampak dari El Nino ini juga sama dengan wilayah lainnya di Jawa yaitu kita akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang," kata Ardhasena dalam konferensi pers, Rabu (10/6/2026).
BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026. Pada periode itu, udara kering mendominasi akibat curah hujan yang minim dan kelembaban rendah.
"Sekitar bulan Juli-Agustus udara kering yang timbul akibat curah hujan yang minim ini juga disertai kurangnya kelembaban. Itu merupakan karakteristik yang khas dari Pulau Jawa ketika puncak musim kemarau," jelas Ardhasena.
Memasuki September akhir hingga Oktober, suhu udara di Jakarta diperkirakan terasa lebih sumuk. Hal itu dipicu oleh posisi matahari yang tepat melintas di atas Pulau Jawa.
"Mengenai temperatur, biasanya DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk kalau orang Jawa bilang itu sekitar bulan September akhir hingga Oktober karena persis posisi matahari itu melintas di sekitar wilayah atasnya pulau Jawa," ujarnya.
BMKG juga menyoroti dampak El Nino terhadap kualitas udara di Jakarta. Meskipun polutan tidak serta-merta meningkat, minimnya curah hujan membuat polutan tidak tercuci dari atmosfer.
"Sebenarnya dengan tidak adanya hujan ini bukan kualitas udaranya, polutannya naik, tetapi polutannya tidak tercuci, karena kita berkurang hujannya. Sumber polutan itu kan ada setiap saat melalui aktivitas manusia seperti transportasi, pabrik, pembangkit energi, sehingga absennya hujan ini tidak membantu kita untuk memperbaiki kualitas udara," kata Ardhasena.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa El Nino diprediksi mulai aktif pada pertengahan 2026. Peluang intensitas El Nino kategori moderat mencapai 98%, sementara kategori kuat sebesar 62%.
"Prediksi El Nino yang terjadi mulai pertengahan tahun 2026 dengan peluang intensitas El Nino pada kategori moderat sebesar 98%, dan kategori kuat sebesar 62%," kata Faisal dalam konferensi pers yang sama.
BMKG meminta seluruh pemangku kepentingan segera melakukan antisipasi dan mitigasi terhadap dampak El Nino. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko yang ditimbulkan oleh berkurangnya curah hujan secara signifikan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.