SAMARINDA — Puluhan santri di Samarinda kini dibekali keterampilan khusus untuk menyelamatkan diri saat bencana melanda. Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Timur menggelar program Tagana Masuk Sekolah (TMS) di Pondok Pesantren Al-Izzah, dengan total 250 peserta yang terdiri dari santri dan dewan guru pembimbing.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Kaltim, Achmad Rasyidi, menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan lagi sekadar wacana, melainkan keterampilan wajib. "Indonesia berada di wilayah rawan bencana, sehingga pemahaman tentang mitigasi adalah keterampilan wajib untuk menyelamatkan diri dan orang di sekitar kita," ujarnya saat membuka kegiatan, Rabu.
Bukan Sekadar Teori, Santri Langsung Praktik di Lapangan
Program TMS dirancang berbeda dari sosialisasi biasa. Para santri tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga diajak melakukan simulasi fisik di lapangan. Mereka dilatih merespons situasi darurat secara sigap, tanggap, dan mandiri.
Latihan ini difasilitasi langsung oleh Tim Tagana dan Kampung Siaga Bencana (KSB) Barito Samarinda yang bertindak sebagai instruktur lapangan. Tujuannya jelas: membentuk karakter generasi muda yang peduli lingkungan dan tangguh menghadapi risiko bencana.
Peta Ancaman: Dari Banjir Bandang hingga Kegagalan Teknologi
Langkah preventif ini diambil bukan tanpa alasan. Kalimantan Timur memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Rasyidi memetakan potensi ancaman yang mengintai wilayah Kaltim, mulai dari bencana alam, bencana sosial, hingga bencana nonalam.
Beberapa ancaman nyata yang kerap terjadi di antaranya banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, banjir bandang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta risiko kegagalan teknologi. Kondisi geografis ini menuntut kolaborasi kuat dari seluruh elemen masyarakat.
"Ketakutan dan kekhawatiran terhadap bencana harus dihadapi dengan kesiapan. Salah satunya melalui sosialisasi mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan agar dapat menekan jumlah korban maupun kerugian akibat bencana," tegas Rasyidi.
Kolaborasi Lintas Sektor: Pemerintah, Relawan, dan Pesantren
Kegiatan ini menjadi contoh sinergi antara pemerintah, komunitas relawan, dan lembaga pendidikan keagamaan. Dinsos Kaltim menilai pondok pesantren memiliki peran strategis dalam menyebarkan budaya sadar bencana di masyarakat.
Rasyidi berpesan agar seluruh santri menyerap ilmu yang diberikan oleh tim Tagana dengan optimal. "Semoga ilmu yang diperoleh hari ini menjadi bekal yang bermanfaat untuk menjaga keselamatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar," pungkasnya.