KALIMANTAN TIMUR — Penurunan harga energi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di sektor transportasi. Data BPS yang dirilis Selasa (4/8/2026) menunjukkan kelompok transportasi menyumbang inflasi bulanan 0,52% dengan andil 0,06%, sekaligus menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar kedua setelah makanan, minuman, dan tembakau.
Secara tahunan, inflasi transportasi mencapai 5,12% dengan andil 0,62% terhadap inflasi nasional 2,88%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan harga kebutuhan masyarakat masih berada di level yang lebih mahal ketimbang Juli 2025.
Bensin dan Tarif Angkutan Udara Jadi Biang Kerok Inflasi Transportasi
Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, mengungkapkan tekanan harga pada kelompok transportasi berasal dari beberapa komoditas sekaligus. Bensin menjadi penyumbang utama, diikuti tarif angkutan udara, pelumas mesin, sepeda motor, hingga mobil.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada Juli 2026 adalah bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga," ungkapnya dalam rilis resmi BPS.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina Patra Niaga per 1 Juli 2026 memang telah dilakukan. Pertamax Turbo (RON 98) turun Rp1.450 atau sekitar 7%, Dexlite (CN 51) turun Rp3.350 atau sekitar 14%, dan Pertamax Dex (CN 53) juga mengalami penyesuaian. Namun, transmisi penurunan ini belum otomatis diikuti oleh penurunan ongkos transportasi maupun tarif angkutan umum.
Komponen Harga Diatur Pemerintah Masih Mencatat Inflasi
Sarpono menegaskan, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) tetap mencatat inflasi meskipun Indonesia mengalami deflasi secara keseluruhan. Kondisi ini menunjukkan penurunan harga energi belum mengalir penuh kepada konsumen akhir.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah bensin," jelasnya.
Selain transportasi, sejumlah kebutuhan lain masih mencatat kenaikan harga sepanjang Juli 2026. Biaya pendidikan, telepon seluler, pelumas mesin, dan beberapa jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi komponen inti. Artinya, tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda kendati inflasi umum berubah menjadi deflasi.
Deflasi Bulanan vs Inflasi Tahunan: Dua Sisi yang Perlu Dicermati
Membaca deflasi bulanan tanpa melihat inflasi tahunan berpotensi menghasilkan kesimpulan yang keliru. Secara tahunan, Indonesia masih mencatat inflasi 2,88%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Harga berbagai kebutuhan masyarakat tetap berada di level yang lebih mahal dibandingkan Juli 2025.
Deflasi Juli 2026 seharusnya tidak hanya dipandang sebagai indikator keberhasilan pengendalian harga. Pemerintah perlu memastikan penurunan harga energi benar-benar diterjemahkan menjadi ongkos transportasi yang lebih rendah agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tanpa perbaikan mekanisme transmisi tersebut, ruang belanja rumah tangga tetap berpotensi tertekan. Terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah yang porsi pengeluarannya untuk transportasi dan pangan cukup besar.
BPS mencatat kombinasi penurunan harga BBM nonsubsidi dan melimpahnya pasokan komoditas hortikultura menjadi faktor utama penahan laju inflasi bulanan. Namun, tekanan dari sektor transportasi menjadi pengingat bahwa stabilitas harga secara agregat belum menjamin beban hidup masyarakat turun secara merata.