KALIMANTAN TIMUR — Perjalanan menembus pasar global tidaklah instan. Pemilik Craftote, Thio Siujinata, mengaku pada awal membuka usahanya di Tomang, Jakarta Barat, jangkauan pemasaran produknya sangat terbatas. “Saya hanya mengandalkan promosi di lingkungan sekitar dan jaringan pribadi,” ujarnya.
Dari Eceng Gondok hingga Rotan, Serat Alam yang Mendunia
Craftote mengolah berbagai bahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, dan rotan menjadi produk kerajinan bernilai tinggi. Bahan-bahan ini dipilih karena sifatnya yang aman terdekomposisi tanpa merusak air, udara, atau tanah.
Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding. Konsep usaha ini unik karena memadukan galeri kerajinan dengan coffee shop, menciptakan pengalaman berbelanja yang berbeda bagi konsumen.
Peran BRI sebagai Katalisator UMKM Go Global
BRI tidak hanya memberikan pendanaan, tetapi juga pendampingan bisnis dan akses ke jaringan pemasaran yang lebih luas. Program pemberdayaan ini menjadi jembatan bagi Craftote untuk memperkenalkan produknya ke pasar internasional.
Thio mengakui bahwa tanpa dukungan permodalan dan pelatihan dari BRI, mungkin usahanya masih berkutat di pasar lokal. Kini, produk-produk serat alam buatannya sudah dikirim ke Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris.
Masa Depan Kerajinan Ramah Lingkungan Indonesia
Keberhasilan Craftote membuka peluang bagi UMKM lain di sektor serat alam untuk mengikuti jejak yang sama. Dengan tren global yang semakin mengutamakan produk ramah lingkungan, potensi ekspor kerajinan berbasis bahan alami Indonesia sangat besar.
BRI sendiri berkomitmen untuk terus memperluas program pemberdayaan UMKM, terutama yang memiliki potensi ekspor. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor usaha kecil dan menengah yang berdaya saing global.