SAMARINDA — Pengamat Peternakan Universitas Mulawarman (Unmul) menyoroti praktik penyembelihan hewan kurban di Kalimantan Timur yang dinilai masih mengabaikan aspek kesejahteraan hewan. Temuan di lapangan menunjukkan sejumlah pelanggaran terjadi secara berulang setiap musim kurban.
Pelanggaran dari Pengangkutan hingga Pemotongan
Menurut pengamat peternakan Unmul, masalah utama terletak pada proses pengangkutan hewan yang kerap tidak sesuai standar. Hewan sering diangkut dalam kondisi berdesakan, tanpa ventilasi yang memadai, dan dalam perjalanan jauh tanpa jeda istirahat.
Kondisi ini menyebabkan hewan mengalami stres berat sebelum akhirnya disembelih. Stres pada hewan tidak hanya melanggar etika, tetapi juga berdampak pada kualitas daging yang dihasilkan.
Metode Penyembelihan yang Tidak Sesuai Syariat dan Standar
Metode pemotongan yang dilakukan di sejumlah tempat juga menjadi sorotan. Alat yang digunakan dinilai tidak tajam, sehingga memperpanjang rasa sakit pada hewan. Proses penyembelihan yang tidak memenuhi syariat Islam dan standar kesehatan hewan ini masih kerap ditemukan di beberapa titik pemotongan di Kaltim.
“Kami masih melihat banyak praktik yang tidak sesuai, baik dari sisi syariat maupun animal welfare. Hewan disembelih dengan pisau tumpul, atau posisi hewan yang tidak benar,” ungkap pengamat Unmul dalam keterangannya.
Edukasi dan Pengawasan Masih Lemah
Lemahnya edukasi kepada panitia kurban dan juru sembelih (juleha) dinilai menjadi akar masalah. Banyak petugas pemotongan yang belum tersertifikasi atau tidak memahami tata cara penyembelihan yang baik.
Pengawasan dari dinas terkait, menurut pengamat, juga masih perlu ditingkatkan. Tidak semua lokasi pemotongan mendapat pemeriksaan langsung dari petugas kesehatan hewan, terutama di daerah pedalaman atau lokasi pemotongan mandiri di lingkungan perumahan.
Dampak pada Kualitas Daging dan Kesehatan Konsumen
Selain aspek etika, praktik yang tidak sesuai juga berpotensi menurunkan kualitas daging kurban. Hewan yang stres sebelum dipotong menghasilkan daging dengan pH tinggi, lebih cepat basi, dan teksturnya kurang baik.
Hal ini menjadi perhatian serius mengingat daging kurban akan didistribusikan kepada masyarakat luas. Konsumen berhak mendapatkan daging yang sehat dan higienis, bukan hanya sekadar halal.
Rekomendasi: Sertifikasi Juleha dan Pemeriksaan Ketat
Pengamat Unmul merekomendasikan agar setiap panitia kurban mewajibkan juru sembelih memiliki sertifikat kompetensi. Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah pemotongan juga harus menjadi prosedur wajib, bukan sekadar formalitas.
“Ini persoalan ibadah dan kesehatan publik. Tidak bisa lagi dibiarkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Perlu ada komitmen dari semua pihak, dari pemkot hingga tingkat RT,” tegasnya.
Praktik penyembelihan kurban yang baik tidak hanya menjamin sahnya ibadah, tetapi juga menghormati makhluk hidup yang dikurbankan. Kaltim, sebagai salah satu wilayah dengan populasi Muslim yang besar, dinilai perlu menjadi contoh dalam penerapan animal welfare saat Idul Adha.