Pencarian

Populasi Pesut Mahakam Sisa 65 Ekor Usai Kematian Lion di Kukar

Jumat, 08 Mei 2026 • 22:12:49 WIB
Populasi Pesut Mahakam Sisa 65 Ekor Usai Kematian Lion di Kukar
Pesut Mahakam jantan bernama Lion ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kutai Kartanegara.

TENGGARONG — Kabar duka menyelimuti ekosistem perairan Kalimantan Timur setelah Pesut Mahakam jantan bernama Lion ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). Berdasarkan data Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI), kematian ini merupakan kasus pertama pada tahun 2026 yang mereduksi populasi mamalia air tersebut menjadi 65 ekor saja.

Lion bukan sekadar individu pesut biasa bagi para peneliti. Mamalia air ini diperkirakan telah berusia 30 tahun dan sudah teridentifikasi oleh tim ahli sejak tahun 1999. Hilangnya Lion menjadi pukulan telak bagi upaya konservasi di kawasan hilir Sungai Mahakam yang kian terhimpit aktivitas industri.

Temuan Gumpalan Jaring di Lambung Pesut Lion

Tim yang melakukan nekropsi atau bedah bangkai menemukan indikasi kuat adanya gangguan manusia sebelum Lion mati. Di dalam lambung pesut tersebut, petugas menemukan gumpalan jaring yang bercampur dengan sisa ikan hasil buruannya. Selain itu, terdapat tanda fisik berupa lebam pada bagian leher yang memperkuat dugaan adanya benturan atau jeratan.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengungkapkan bahwa lokasi penemuan Lion berada di titik yang sangat rawan. Kawasan Desa Liang merupakan jalur keluar masuk ponton batu bara dari anak Sungai Belayan menuju arus utama Sungai Mahakam.

“Di daerah ditemukannya Lion itu memang padat lalu lintas kapal. Sekitar 200 sampai 500 meter dari lokasi penemuan itu cukup padat keluar masuk ponton batu bara,” tutur Syarif Iwan Taruna Alkadrie menjelaskan kondisi habitat di lapangan.

Aktivitas Ponton Batu Bara di Jalur Migrasi Pesut

Kepadatan lalu lintas ponton di kawasan konservasi perairan Mahakam disinyalir menjadi faktor utama yang mengganggu habitat pesut. Suara mesin kapal yang bising dan risiko fisik dari lambung kapal besar menjadi ancaman nyata bagi mamalia yang mengandalkan sonar untuk navigasi ini.

Sebagai langkah tegas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dilaporkan telah melakukan penyegelan terhadap Jeti Bayan, salah satu dermaga batu bara yang beroperasi di kawasan tersebut. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya investigasi menyeluruh untuk menekan risiko kematian pesut di masa mendatang.

Pemerintah pusat kini tengah mendalami berbagai kemungkinan penyebab kematian Lion melalui uji laboratorium untuk memastikan apakah penyebab utama berasal dari limbah, aktivitas kapal, atau alat tangkap nelayan yang tidak ramah lingkungan.

Langkah Pemkab Kukar Tunggu Hasil Uji Laboratorium

Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan atensi penuh terhadap kasus ini. Masalah kelestarian Pesut Mahakam disebutnya telah menjadi bahasan khusus saat pertemuan terakhir pemerintah daerah dengan menteri terkait di Jakarta.

“Ya, kita mengatensi itu. Di pemerintah daerah juga memang pada saat terakhir kami ke Kementerian LHK, itu salah satu yang diatensi oleh menteri saat itu,” ungkap Aulia Rahman Basri di Pendopo Odah Etam, Jumat (8/5/2026).

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar saat ini telah diterjunkan ke lapangan untuk membantu proses identifikasi masalah. Bupati memastikan pihaknya siap menjalankan instruksi teknis dari kementerian setelah hasil investigasi final keluar.

“Nanti kita akan lihat ini kira-kira hasil dari investigasinya seperti apa dan nanti kita siap melaksanakan perintah sesuai dengan hasil investigasi itu,” tegas Bupati Aulia mengakhiri keterangannya.

Bagikan
Sumber: niaga.asia

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks