SAMARINDA — Lesunya industri tambang di Kalimantan Timur dalam setahun terakhir mengakibatkan lebih dari 40.000 pekerja kehilangan pekerjaan. Data yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan angka pengangguran kini mulai bergeser dari kawasan pertambangan ke wilayah perkotaan.
Kondisi ini dipicu oleh penurunan harga komoditas batu bara global serta sejumlah perusahaan tambang yang melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk penghentian operasi di beberapa titik. Dampaknya, pekerja yang sebelumnya menggantungkan hidup di sektor tambang kini berbondong-bondong mencari peluang di kota.
Pemkot Samarinda dan Balikpapan mencatat peningkatan jumlah pendatang yang mencari kerja dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian besar berasal dari Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Paser yang merupakan wilayah dengan konsentrasi tambang tinggi.
“Kami melihat lonjakan permohonan Kartu Tanda Penduduk dari warga baru yang mengaku kehilangan pekerjaan di tambang. Mereka datang dengan keterampilan terbatas di luar sektor pertambangan,” ujar seorang pejabat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Samarinda dalam laporan yang dikutip.
Pergeseran pengangguran ke perkotaan mendorong pertumbuhan sektor informal seperti ojek online, buruh harian lepas, dan pedagang kaki lima. Namun, daya tampung sektor ini terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja baru.
Di Bontang, misalnya, jumlah pengemudi ojek online meningkat 30 persen dalam enam bulan terakhir. Banyak dari mereka adalah mantas pekerja tambang yang kehilangan pekerjaan sejak awal 2024.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyadari ancaman sosial dari krisis lapangan kerja ini. Sejumlah program pelatihan vokasi dan pengembangan UMKM di daerah perkotaan mulai digencarkan sebagai upaya menyerap tenaga kerja yang terdampak.
“Kami tidak bisa mengandalkan tambang selamanya. Diversifikasi ekonomi adalah kunci agar pengangguran tidak terus membengkak di kota-kota besar,” kata seorang pejabat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kaltim dalam pernyataan resmi.
Belum ada kepastian kapan sektor tambang akan pulih. Sementara itu, ribuan mantan pekerja tambang di Kaltim harus beradaptasi dengan realitas baru: mencari nafkah di kota yang persaingan kerjanya jauh lebih ketat.