SAMARINDA — Lanjong Foundation, kelompok teater asal Kalimantan Timur, mementaskan lakon satire “Ibu Negara” yang memicu diskusi publik. Dalam pertunjukan tersebut, para aktor secara sengaja meniru gestur dan bahasa tubuh khas Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk kritik terhadap bahasa kekuasaan.
Alih-alih sekadar parodi, pementasan ini menggunakan gestur politik sebagai medium utama untuk menyampaikan pesan. Bahasa tubuh yang lazim diasosiasikan dengan figur kekuasaan—seperti gerakan tangan tegas, postur tubuh tertentu, dan intonasi vokal—diadopsi untuk membongkar bagaimana kekuasaan bekerja melalui simbol-simbol non-verbal.
“Kami tidak sekadar meniru. Kami ingin menunjukkan bahwa gestur itu sendiri adalah bahasa kekuasaan yang sering tidak disadari,” demikian pernyataan dari pihak Lanjong Foundation dalam bahan yang diterima redaksi.
Teater “Ibu Negara” mengusung genre satire, sebuah pendekatan yang memungkinkan kritik sosial disampaikan lewat humor dan ironi. Dalam konteks Kalimantan Timur yang tengah gencar bertransformasi sebagai Ibu Kota Nusantara (IKN), pertunjukan ini dianggap relevan untuk mengingatkan publik tentang pentingnya ruang kritis terhadap kekuasaan.
Lanjong Foundation dikenal sebagai kelompok seni yang kerap mengangkat isu-isu politik dan sosial dalam karyanya. Pementasan ini menjadi yang terbaru dari deretan karya mereka yang menantang status quo.
Pertunjukan tersebut mendapat respons beragam dari penonton. Sebagian menilai pendekatan ini berani dan segar, sementara yang lain menganggapnya terlalu frontal. Namun, Lanjong Foundation menegaskan bahwa seni adalah ruang untuk refleksi, bukan provokasi.
“Teater harus bisa menjadi cermin. Kalau ada yang merasa tidak nyaman, mungkin itu tanda bahwa cerminnya jernih,” ujar perwakilan Lanjong Foundation.
Pementasan ini diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas tentang peran seni dalam demokrasi, khususnya di tengah dinamika politik nasional yang kian intens.