Pencarian

Sahabat Hijau Nusantara Soroti Ketergantungan Tambang Kaltim, Diskusi Dua Tahun Asta Cita Bahas Ekonomi Pasca-Tambang

Senin, 02 November 2026 • 06:01:01 WIB
Sahabat Hijau Nusantara Soroti Ketergantungan Tambang Kaltim, Diskusi Dua Tahun Asta Cita Bahas Ekonomi Pasca-Tambang
Diskusi publik Sahabat Hijau Nusantara di Samarinda membahas ketergantungan ekonomi Kaltim pada sektor tambang.

SAMARINDA — Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap sektor pertambangan menjadi tantangan besar dalam menyiapkan masa depan ekonomi daerah. Diskusi publik yang digelar Sahabat Hijau Nusantara di Yen's Delight Coffee Pastry & Resto, Samarinda, menghadirkan sejumlah pemerhati lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Data DJPb Kanwil Kaltim dan Biro Perekonomian Setda Provinsi Kaltim tahun 2025 menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 35,34 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim pada Triwulan I-2025. Hingga Juli 2025, 76,54 persen nilai ekspor Kaltim masih ditopang komoditas pertambangan.

Tambang Bukan Sumber Daya yang Bisa Diandalkan Selamanya

Direktur Eksekutif PROGRESS INDONESIA yang juga Ketua Umum PP KAMMI, Taufik Amrullah, menilai besarnya kontribusi sektor tambang seharusnya menjadi modal untuk mempersiapkan transformasi ekonomi. Menurut dia, karakteristik pertambangan yang mengandalkan sumber daya tidak terbarukan menuntut pemerintah dan masyarakat menyiapkan sumber ekonomi alternatif sejak dini.

"Tambang bukan sumber daya yang bisa diandalkan selamanya. Karena itu, kita harus mulai mempersiapkan kehidupan setelah tambang dari sekarang. Potensi ekonomi yang dimiliki daerah harus menjadi modal untuk membangun kemandirian masyarakat," ujarnya.

Taufik menilai Kaltim telah memiliki fondasi untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui Low Carbon Growth Strategy (LCGS) dan Green Growth Compact yang dimulai sejak Mei 2016. Namun, keberadaan berbagai kebijakan tersebut perlu diikuti langkah konkret agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Ekonomi Hijau Harus Berdampak Nyata hingga Tingkat Desa

Rimbawan senior Kementerian Kehutanan, Ismail Akbar, menilai tantangan utama pengembangan ekonomi hijau bukan sekadar menyusun konsep dan kebijakan. Yang lebih penting, memastikan pelaksanaannya memberikan dampak nyata hingga tingkat desa.

"Keberhasilan ekonomi hijau jangan hanya diukur dari banyaknya program atau dokumen kebijakan. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh pekerjaan dan pendapatan, produk lokal memiliki pasar yang berkelanjutan, serta kondisi lahannya semakin membaik," kata Ismail.

Dia menjelaskan sejumlah peluang ekonomi alternatif dapat dikembangkan melalui agroforestri, seperti kakao, rempah-rempah, dan hasil hutan bukan kayu. Jasa lingkungan dan energi bersih juga berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Ismail menyebut pengembangan potensi tersebut harus melibatkan seluruh kelompok masyarakat. Perempuan perlu mendapatkan ruang sebagai penjaga ketahanan pangan, sedangkan generasi muda dapat berperan dalam mendorong pemanfaatan teknologi dan pemasaran digital.

Perempuan dan Generasi Muda Harus Dapat Akses Inklusif

Pemerhati pemberdayaan perempuan sekaligus kandidat doktor Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman, Dina Riska, menegaskan ekonomi hijau harus memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat. Bukan hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

"Ekonomi hijau harus memastikan tiga hal berjalan bersamaan, yakni mengurangi tekanan terhadap lingkungan, menciptakan sumber pendapatan yang layak, serta membuka akses yang inklusif bagi perempuan dan generasi muda," ujarnya.

Lima Indikator Evaluasi Sebelum Memulai Inisiatif Ekonomi Hijau

Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan masyarakat di tengah perubahan sosial dan ekonomi. Perwakilan Pemuda Samarinda menyampaikan pesan kebangsaan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh hoaks, disinformasi, fitnah, maupun ujaran kebencian.

"Kami pemuda Samarinda ingin menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa kita bersaudara. Mari jaga persatuan dan kesatuan, serta bersama-sama memerangi hoaks, disinformasi, fitnah, dan kebencian. Indonesia, kita jaga bersama!" serunya.

Diskusi ditutup dengan kesepakatan mengenai lima indikator evaluasi yang perlu diperhatikan sebelum memulai inisiatif ekonomi hijau di daerah. Seluruh pembahasan dirangkum dalam prinsip bahwa transisi ekonomi harus berjalan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, yakni lahan dirawat, usaha dikuatkan, dan manfaat dibagi bersama.

Follow kaltimnow.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: komparasinews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks