KALIMANTAN TIMUR — Lima film dan series menghadirkan wabah fiksi yang menular bukan lewat udara atau gigitan, melainkan melalui suara, siaran radio, dan sinyal elektronik. Premis ini dipakai Pontypool (2008) hingga series Turki Hot Skull (2022) untuk mengubah komunikasi sehari-hari menjadi ancaman mematikan. Berikut daftar lengkapnya beserta benang merah ceritanya.
Wabah dalam film horor dan thriller biasanya menyebar lewat udara, sentuhan, atau gigitan orang yang sudah terinfeksi. Sejumlah judul justru memilih jalur penularan yang lebih unsettling: suara. Siaran radio, sinyal ponsel, hingga kata-kata yang diucapkan berubah jadi medium penyebaran penyakit misterius.
Konsep ini menempatkan hal yang paling biasa dalam hidup sehari-hari sebagai sumber teror. Karakter-karakternya terpapar hanya karena mendengar siaran tertentu, menerima sinyal dari perangkat elektronik, atau mengucapkan kata yang sudah terkontaminasi. Berikut lima film dan series yang menggarap premis tersebut dengan pendekatan berbeda-beda.
1. Hot Skull (2022): Wabah Lewat Komunikasi Verbal
Series asal Turki ini berlatar masyarakat distopia yang dilanda penyakit misterius. Wabah menyebar melalui komunikasi verbal dan membuat penderitanya kehilangan kendali atas diri sendiri.
Cerita berpusat pada Murat Siyavus, mantan ahli bahasa yang ternyata kebal terhadap penyakit tersebut. Keberadaannya menarik perhatian Anti-Epidemic Institution, lembaga yang memburu orang-orang terkait wabah. Murat pun meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghadapi bahaya di tengah kota Istanbul yang kacau.
2. Cell (2016): Sinyal Ponsel yang Mengubah Manusia
Cell mengisahkan kekacauan setelah sinyal misterius menyebar melalui jaringan telepon seluler di seluruh dunia. Sinyal itu memengaruhi orang-orang yang sedang memakai ponsel hingga berubah menjadi sosok brutal yang menyerang siapa saja di sekitarnya.
Cerita mengikuti Clayton "Clay" Riddell, seniman yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan istri dan anaknya. Clay selamat karena tidak sedang memakai ponsel saat sinyal menyebar. Ia kemudian bertemu Tom McCourt dan sejumlah penyintas lain, lalu bersama-sama berusaha bertahan hidup dan mencari cara menghadapi para korban yang terinfeksi.
3. T Is for Talk Radio (2011): Kebencian yang Menular
Film horor pendek asal Australia ini menghadirkan wabah melalui kata-kata kebencian dari sebuah siaran radio. Ceritanya berpusat pada Joan, ibu rumah tangga yang terinfeksi virus mematikan setelah mendengar perkataan penuh kebencian dari seorang penyiar.
Infeksi itu membuat Joan mengalami perubahan perilaku yang mengarah pada tindakan kekerasan. Film ini menyoroti bagaimana perkataan bernada kebencian yang disebarkan lewat media dapat memengaruhi seseorang dan menimbulkan dampak buruk bagi orang di sekitarnya.
4. Pontypool (2008): Virus yang Masuk ke Dalam Bahasa
Pontypool mengangkat wabah misterius yang menyerang kota kecil bernama Pontypool di Ontario, Kanada. Cerita mengikuti Grant Mazzy, penyiar radio yang mulai menerima laporan kerusuhan dan kejadian mengerikan di sekitar kota tempatnya bekerja. Situasi makin tak terkendali ketika pemerintah mengumumkan wilayah tersebut karantina.
Bersama asisten teknis Laurel-Ann Drummond dan manajer stasiun Sydney Briar, Grant berusaha memahami penyebab wabah. Seorang dokter bernama Mendez kemudian mengemukakan teori bahwa virus telah masuk ke dalam bahasa dan menyebar melalui kata-kata tertentu yang diucapkan serta dipahami orang lain. Bahasa yang seharusnya jadi alat komunikasi justru berubah menjadi sumber penularan mematikan.
5. The Signal (2007): Transmisi yang Memicu Kekerasan
The Signal menghadirkan horor tentang transmisi misterius yang menyebar melalui berbagai perangkat elektronik, termasuk ponsel, radio, dan televisi. Sinyal itu memengaruhi pikiran orang yang terpapar hingga memicu kekacauan psikologis dan perilaku kekerasan.
Film ini dibagi menjadi tiga bagian atau transmisi yang diceritakan dari sudut pandang berbeda. Setiap bagian memperlihatkan bagaimana wabah memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk hubungan antarmanusia yang sebelumnya dipenuhi rahasia, kecemburuan, dan pengkhianatan. Seiring meluasnya pengaruh sinyal, situasi makin brutal dan sulit dikendalikan.
Mengapa Premis Wabah Lewat Suara Terus Dipakai
Kelima judul di atas sama-sama memanfaatkan sesuatu yang akrab untuk membangun ketegangan. Radio di Pontypool dan T Is for Talk Radio, ponsel di Cell dan The Signal, serta percakapan sehari-hari di Hot Skull adalah benda dan kebiasaan yang sulit dihindari.
Dari situ, horornya bekerja: penonton diajak membayangkan alat komunikasi yang paling dekat justru menjadi jalur penularan. Pontypool melangkah lebih jauh dengan menjadikan bahasa itu sendiri sebagai virus, sementara The Signal membagi ceritanya ke dalam tiga transmisi dengan sudut pandang berbeda.
Bagi penonton Indonesia, deretan film dan series ini bisa jadi tontonan alternatif ketika bosan dengan premis zombie konvensional. Konsepnya memang fiksi, tapi kedekatan mediumnya dengan keseharian membuat terornya terasa lebih dekat.