KALIMANTAN TIMUR — Banjir yang melanda Aceh Barat beberapa waktu lalu meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit. Lahan produktif terendam, pematang jebol, dan saluran irigasi tersumbat lumpur. Jika tidak segera ditangani, petani bisa kehilangan satu musim tanam penuh.
Untuk itu, pemerintah kabupaten bergerak cepat. Dana swakelola yang disalurkan melalui kelompok tani difokuskan pada perbaikan infrastruktur lahan yang paling parah terdampak. Perbaikan ini mencakup normalisasi saluran air, perbaikan pematang, dan pengolahan tanah agar siap tanam kembali.
Petani Targetkan Tanam Kembali Pekan Ini
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat menyebutkan, dari total lahan rusak, sebagian besar berada di kawasan yang dekat dengan aliran sungai. Air yang meluap membawa material lumpur dan pasir, membuat tanah tidak subur untuk sementara waktu.
Tim teknis kini diterjunkan ke lapangan untuk mendampingi kelompok tani. Pendampingan ini penting agar proses pemulihan berjalan sesuai standar dan bantuan tepat sasaran. Beberapa kelompok tani di kecamatan yang akses jalannya sempat terputus baru menerima bantuan dalam dua hari terakhir.
Dengan adanya bantuan ini, petani diharapkan bisa segera melakukan pengolahan tanah. Targetnya, dalam pekan ini sebagian lahan sudah bisa ditanami kembali dengan padi.
Bantuan Tepat Waktu, Petani Bernapas Lega
Penyaluran dana swakelola ini menjadi kabar baik di tengah keluhan petani yang sempat kesulitan modal. Sebagian dari mereka bahkan mengaku sempat berpikir untuk beralih pekerjaan jika lahan tidak segera pulih.
Ketua salah satu kelompok tani di Kecamatan Meureubo mengatakan, bantuan ini sangat berarti. Selain untuk memperbaiki lahan, dana tersebut juga digunakan untuk membeli benih dan kebutuhan pupuk awal. Ia berharap proses pemulihan berjalan mulus agar target panen akhir tahun tidak meleset jauh.
Banjir tahun ini memang tercatat lebih parah dibanding tahun lalu. Data sementara mencatat, selain sawah, puluhan hektare tanaman palawija ikut gagal panen. Namun, fokus utama pemerintah saat ini adalah mengembalikan fungsi lahan sawah terlebih dahulu.
Pemulihan Bertahap, Data Masih Terus Diperbarui
Dinas Pertanian masih melakukan pendataan ulang di lapangan. Ada kemungkinan luas lahan rusak bertambah karena akses ke beberapa desa terpencil baru terbuka. Pihak kecamatan juga diminta segera melaporkan kondisi terkini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Pemerintah kabupaten berkomitmen memulihkan seluruh lahan terdampak sebelum musim tanam berikutnya tiba. Koordinasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di setiap kecamatan terus diperkuat untuk memastikan tidak ada petani yang terlewat dari pendataan.
Pemulihan lahan ini menjadi penentu bagi ketahanan pangan di Aceh Barat. Jika target tanam kembali tercapai, produksi beras daerah diharapkan tetap stabil meski bencana sempat melanda.