SAMARINDA — Keyakinan itu disampaikan Hasanuddin Masud usai menghadiri peletakan batu pertama proyek PLTA Batoq Kelo pada Senin (25/5/2026). Menurutnya, pembangkit listrik tenaga air ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan dasar warga, tetapi juga menjadi motor penggerak transisi energi bersih di Benua Etam.
72 Desa Gelap Gulita, 750 Rumah Menyala dalam Waktu Dekat
Hasanuddin Masud yang akrab disapa Hamas membeberkan data konkret terkait dampak langsung proyek ini. Ia menyebut, PLTA Batoq Kelo mampu menyuplai listrik untuk kurang lebih 750 rumah tangga.
"Ini satu terobosan. Nanti akan memenuhi kebutuhan kurang lebih 750 rumah. Saat ini ada sekitar 72 desa dari total 100 desa lebih yang memang belum terpenuhi listriknya," ujarnya kepada Tribunkaltim.co, Selasa (26/5/2026).
PLN Pastikan Interkoneksi Prioritas untuk Daerah Terpencil
Hamas memastikan komitmen pemenuhan listrik desa telah diperkuat oleh jajaran direksi PT PLN (Persero), termasuk Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Pihak PLN disebut telah menjanjikan sistem interkoneksi dari PLTA Batoq Kelo akan memprioritaskan desa-desa yang selama ini belum teraliri listrik.
"Ini sudah menjadi janji dari Direktur PLN. Kemudian Pak Hashim selaku utusan khusus Presiden bidang energi juga sudah memberikan konfirmasi bahwa dengan beroperasinya PLTA Batoq Kelo ini, maka kebutuhan desa-desa yang selama ini tidak teraliri listrik akan terpenuhi," tuturnya.
Tak Hanya Mahulu dan Kubar, Listrik Juga Mengalir ke IKN
Distribusi listrik dari megaproyek ini diproyeksikan tidak hanya menyasar Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kutai Barat (Kubar). Jaringan kelistrikan ini juga akan menopang kebutuhan energi di Kalimantan Utara (Kaltara) hingga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Hasanuddin menyebut lokasi PLTA yang dekat dengan perbatasan provinsi menjadi nilai tambah strategis. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kaltim, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat yang mendukung pembangunan proyek ini.
Energi Hijau Tanpa Emisi, Target Transisi Energi Kaltim
Selain menjadi solusi energi, proyek PLTA Batoq Kelo juga dinilai membawa dampak positif terhadap upaya transisi energi ramah lingkungan. Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil, PLTA ini memanfaatkan tenaga air sebagai sumber energi utama sehingga tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.
"Ini sangat bagus karena menggunakan tenaga alam, sehingga tidak ada emisi. Mudah-mudahan ke depan akan lebih banyak lagi pembangkit listrik tenaga alam atau surya," tambah Hasanuddin Masud.
Fakta Singkat PLTA Batoq Kelo
- Kapasitas: 300 Megawatt (MW)
- Target penerima manfaat: 750 rumah tangga di 72 desa
- Wilayah terdampak: Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kalimantan Utara, dan IKN
- Jenis energi: Tenaga air (hidro), nol emisi karbon