Pemerintah Kabupaten Kutai Timur resmi mengoperasikan satu unit bus listrik untuk angkutan pelajar di wilayah Sangatta guna menekan emisi karbon dan kemacetan. Langkah ini menjadi bagian dari uji coba transportasi ramah lingkungan yang juga bertujuan meringankan beban biaya transportasi bagi orang tua siswa.
Uji coba perdana bus listrik dengan kapasitas 30 penumpang ini menyasar pelajar SMA Negeri 2 Sangatta Utara. Keputusan memilih sekolah tersebut didasari pertimbangan wilayahnya yang selama ini belum terjangkau oleh layanan angkutan umum reguler.
Rute Perdana dan Skema Operasional di Sangatta
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bersama Dinas Perhubungan Kutai Timur telah memetakan jalur operasional selama masa uji coba. Bus akan melayani rute yang dimulai dari kawasan Hotel Pinang menuju sekolah, baik saat jam keberangkatan maupun pulang.
Kepala Disdikbud Kutai Timur, Mulyono, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil kolaborasi lintas instansi. Disdikbud berperan sebagai penyedia manfaat bagi siswa, sementara aspek teknis operasional dikelola sepenuhnya oleh Dinas Perhubungan.
"Hadirnya bus listrik ini hasil kolaborasi dua instansi, yakni Dinas Pendidikan berperan sebagai penyedia manfaat, sedangkan operasional teknis ditangani Dinas Perhubungan. Program ini dirancang sejak 2024, alhamdulillah tahun ini bisa direalisasikan," ujar Mulyono.
Upaya Menekan Biaya Transportasi Rumah Tangga
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyatakan bahwa kehadiran bus listrik ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga solusi ekonomi bagi masyarakat. Dengan adanya angkutan sekolah gratis, beban operasional rumah tangga untuk antar-jemput anak diharapkan dapat berkurang signifikan.
Selain itu, penggunaan armada listrik diklaim efektif mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi yang sering memicu kepadatan lalu lintas di jam sibuk sekolah.
"Bus listrik sekolah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menghadirkan transportasi yang ramah lingkungan, sekaligus untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pelajar baik saat berangkat maupun pulang sekolah," tutur Ardiansyah di Sangatta, Selasa.
Tantangan Geografis dan Rencana Ekspansi Armada
Meski mengusung teknologi ramah lingkungan, Pemkab Kutai Timur mengakui implementasi bus listrik memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait infrastruktur pendukung dan kondisi geografis wilayah yang berbukit.
Ardiansyah menegaskan komitmennya untuk menambah armada secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi fiskal daerah. Namun, untuk wilayah yang sulit dijangkau bus listrik besar, pemerintah menyiapkan opsi lain.
"Untuk kawasan perkotaan seperti di Sangatta, bus listrik ini cocok, namun tantangan geografis dan infrastruktur pendukung yang belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah Kutai Timur, maka untuk penggunaan angkutan pelajar ke depan akan menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak seperti bus mini," katanya.
Evaluasi berkala akan dilakukan terhadap operasional satu unit bus listrik ini. Pemerintah daerah berharap pola transportasi ini bisa menjadi standar baru dalam pelayanan publik di Kutai Timur, sekaligus memastikan seluruh anak mendapatkan akses transportasi yang layak, aman, dan tepat waktu.