SANGATTA — Ancaman kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga akhir 2026 mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengaktifkan program ketahanan pangan dari unit terkecil: rumah tangga. Langkah ini tidak sekadar menyiapkan jaring pengaman, tetapi juga mengubah pola konsumsi warga agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar.
Cadangan Beras 83,6 Ton Disimpan di Bulog Samarinda
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Alidi, menyatakan bahwa sebanyak 83,6 ton beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) telah disiapkan. Beras tersebut kini disimpan di Perum Bulog Samarinda dan siap dikirim sewaktu-waktu jika terjadi keadaan darurat atau gejolak harga.
"Cadangan beras sebanyak 83,6 ton memang sudah kami siapkan dalam menghadapi kemarau tahun ini, namun ini untuk kesiapsiagaan, sehingga ketahanan pangan dari rumah tangga terus kami dorong," ujar Alidi di Sangatta, Kamis.
Teras Pangan B2SA: Benih, Polybag, dan Pupuk untuk Dasa Wisma
Program andalan yang digencarkan adalah Teras Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman). Melalui program ini, pemerintah membagikan benih sayuran, polybag, dan pupuk kompos kepada kelompok dasa wisma di desa-desa. Targetnya, setiap pekarangan rumah bisa menjadi sumber produksi hortikultura, palawija, dan tanaman pangan lain.
Alidi menjelaskan bahwa diversifikasi pangan ini penting agar masyarakat tidak hanya mengandalkan beras. Ketika warga terbiasa menanam kebutuhan dapur sendiri, belanja ke pasar bisa dikurangi. Hal itu secara langsung menekan dampak kenaikan harga dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
"Syukur jika bisa sampai dijual sebagai pendapatan keluarga," kata dia.
Tiga Strategi Menghadapi Kemarau: Stok, Produksi Rumah Tangga, dan Pasar Murah
Program Teras Pangan B2SA hanyalah satu dari tiga strategi yang disiapkan. Dua strategi lainnya adalah penguatan cadangan pangan pemerintah daerah dan perluasan gerakan pangan murah (GPM).
GPM akan menjadi instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat ketika harga pangan bergejolak. Dengan begitu, warga tetap bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau tanpa harus mengalami kerawanan pangan selama musim kemarau.