Pencarian

Hujan Akhirnya Guyur Balikpapan Usai Kemarau Panjang Sejak Juli, Lima Kecamatan Terbasahi

Selasa, 08 September 2026 • 17:08:32 WIB
Hujan Akhirnya Guyur Balikpapan Usai Kemarau Panjang Sejak Juli, Lima Kecamatan Terbasahi
Hujan alami mengguyur lima kecamatan di Kota Balikpapan setelah kemarau panjang sejak Juli 2026.

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akhirnya mengguyur seluruh wilayah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, setelah wilayah tersebut dilanda cuaca panas dan kering sejak Juli 2026. Fenomena alam ini merata di lima kecamatan dan mereda menjelang waktu zuhur.

BALIKPAPAN — Setelah lebih dari dua bulan dilanda kemarau, hujan akhirnya tiba di Kota Balikpapan, Senin. Prakirawan BMKG Balikpapan Diyan Novriza memastikan hujan yang turun sejak pagi hingga menjelang siang itu merupakan fenomena alam murni, bukan hasil modifikasi cuaca.

“Hujan yang turun hari ini merupakan hujan alami. Tidak ada kegiatan modifikasi cuaca,” kata Diyan di Balikpapan, Senin.

Pemicu Hujan: Gelombang Kelvin di Atmosfer Kaltim

Diyan menjelaskan, hujan merata ini dipicu aktivitas gelombang tropis di sekitar atmosfer Kalimantan Timur. Fenomena tersebut dipengaruhi Gelombang Kelvin yang secara signifikan meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.

Kondisi atmosfer pada pagi hari sangat mendukung terbentuknya awan. Pemanasan sejak subuh dan suplai kelembapan yang cukup kuat membuat awan berkembang dengan cepat.

Wilayah Terbasahi: Dari Sepinggan hingga Lamaru

Hujan terpantau melanda kawasan Balikpapan Utara, Balikpapan Tengah, Balikpapan Selatan, Balikpapan Barat, hingga Balikpapan Timur. Kondisi ini sempat membasahi kawasan pesisir seperti Sepinggan, Gunung Bahagia, Manggar, dan Lamaru sebelum akhirnya mereda menjelang waktu zuhur.

Gelombang Kelvin: Fenomena Episodik yang Aktif 2-7 Hari

Gelombang Kelvin merupakan gelombang energi yang terbentuk saat wilayah tropis mengalami pemanasan dan konveksi besar, atau pergerakan udara hangat yang naik ke atas. Gangguan pemanasan tersebut menciptakan ketidakseimbangan tekanan yang memicu gelombang bergerak dari barat ke timur di sepanjang garis ekuator.

Fenomena ini bersifat episodik dan biasanya aktif selama dua hingga tujuh hari sebelum akhirnya melemah. Indonesia yang berada di jalur ekuator menjadi salah satu wilayah yang paling sering menerima dampak dari dinamika atmosfer tersebut.

Dampak: Tidak Ada Genangan Besar, Aktivitas Warga Normal

Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai genangan air besar atau gangguan pada layanan publik. Aktivitas masyarakat di seluruh kota dilaporkan tetap berjalan normal.

Follow kaltimnow.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks