ANTAM Pakai Energi Terbarukan, Konsumsi Listrik Operasional Turun 59 Persen

Penulis: Valdi Pratama  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 11:07:01 WIB
Fasilitas operasional PT ANTAM (Persero) Tbk di Kalimantan Timur.

KALIMANTAN TIMUR — PT ANTAM (Persero) Tbk memangkas konsumsi energi di sejumlah wilayah operasionalnya hingga 59 persen lewat pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen emiten berkode ANTM itu mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

PT ANTAM (Persero) Tbk mencatat penurunan konsumsi energi hingga 59 persen di sejumlah wilayah operasional. Capaian itu diraih melalui optimalisasi pemakaian energi sekaligus penambahan porsi sumber energi yang lebih bersih pada kegiatan pertambangan dan pengolahan.

Upaya efisiensi tersebut dijalankan perseroan sebagai bagian dari komitmen mendukung transisi energi menuju ekonomi rendah karbon. Wisnu Danandi, yang tercatat dalam bahan keterangan perusahaan, disebut sebagai pihak yang menangani inisiatif efisiensi energi di lingkungan ANTAM.

Dari Mana Penurunan 59 Persen Berasal

Angka 59 persen tidak muncul dari satu proyek tunggal. Penurunan itu merupakan akumulasi dari dua jalur yang dijalankan bersamaan: penghematan pemakaian energi di fasilitas operasional dan peralihan sebagian kebutuhan listrik ke sumber terbarukan.

Kombinasi keduanya membuat beban energi di sejumlah lokasi tambang dan pabrik pengolahan ANTAM berkurang signifikan. Perseroan belum merinci pembagian kontribusi masing-masing jalur terhadap angka tersebut.

Efisiensi energi di sektor pertambangan memang menjadi sorotan karena biaya listrik dan bahan bakar termasuk komponen pengeluaran terbesar. Setiap penurunan konsumsi langsung berdampak pada struktur biaya produksi.

Siapa yang Merasakan Dampaknya

Bagi ANTAM, penghematan energi berarti ruang fiskal yang lebih lega di tengah fluktuasi harga komoditas. Biaya produksi yang lebih terkendali membantu menjaga margin, terutama pada komoditas seperti nikel dan emas yang harganya bergerak dinamis di pasar global.

Dampak lain menyentuh sisi kepatuhan dan daya saing. Pelanggan industri dan mitra global kian menuntut rantai pasok yang terbukti menekan emisi. Kemampuan menunjukkan jejak karbon yang lebih rendah menjadi nilai tambah saat ANTAM menggarap pasar ekspor.

Masyarakat di sekitar wilayah operasional juga ikut terdampak, meski tidak selalu terlihat langsung. Penggunaan energi yang lebih bersih menekan intensitas emisi di area tambang dan pengolahan, sejalan dengan tuntutan standar lingkungan yang makin ketat.

Posisi di Peta Transisi Energi BUMN

Langkah ANTAM melengkapi gerakan serupa di tubuh BUMN lain yang mulai menata bauran energi operasionalnya. Holding pertambangan negara didorong menyeimbangkan target produksi dengan komitmen dekarbonisasi yang diatur dalam kerangka keberlanjutan.

Bagi investor, inisiatif semacam ini masuk kategori faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG yang makin diperhitungkan dalam penilaian saham emiten tambang. Bukan lagi pelengkap laporan tahunan, melainkan bagian dari cara menilai risiko jangka panjang.

Tantangannya ada pada keberlanjutan program. Penurunan 59 persen perlu dijaga konsistensinya saat volume produksi naik dan lokasi operasional bertambah. Investasi di infrastruktur energi terbarukan menjadi kunci agar capaian itu tidak sekadar angka satu periode.

ANTAM belum membeberkan target penurunan energi berikutnya maupun nilai investasi yang disiapkan. Yang jelas, arah kebijakan perseroan sudah menempatkan efisiensi energi dan energi terbarukan sebagai bagian tetap dari strategi operasional, bukan program sesaat.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top