Tren "Matriarch Trip", Liburan Keluarga yang Ditentukan Sang Ibu

Penulis: Uki Damayanti  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07:31 WIB
Ibu menjadi penentu destinasi dalam tren liburan keluarga yang disebut matriarch trip.

KALIMANTAN TIMUR — Konsep matriarch trip menjadikan ibu atau nenek sebagai penentu destinasi liburan keluarga, bukan sekadar peserta yang ikut jadwal anak-anaknya. Tren perjalanan ini muncul dari kisah keluarga seperti Leti Muñoz dan ibunya, Teresa, yang menempuh tiga minggu di Prancis dan Inggris demi mengunjungi Utah Beach di Normandia. Inspirasinya bisa dari sejarah keluarga, kampung halaman masa kecil, atau destinasi yang selama puluhan tahun hanya jadi impian.

Utah Beach di pesisir Normandia menjadi titik berangkat perjalanan itu. Di lokasi pendaratan tentara Sekutu semasa Perang Dunia II tersebut, kakek Leti Muñoz pernah bertempur. Teresa menyimpan keinginan mengunjungi tempat itu selama bertahun-tahun.

"Itu tempat yang penting dalam hidup ayah saya," kata Teresa tentang almarhum ayahnya. "Saya ingin menapaki jejak langkahnya."

Leti membawa pulang sebotol pasir dan sebutir kerang dari Utah Beach, lalu meletakkannya di ofrenda, altar peringatan keluarga. Namun kenangan yang paling sering diceritakan Teresa bukan soal pantai itu.

Champagne di Menara Eiffel dan Percakapan Tanpa Henti

Saat ditanya soal momen favorit selama tiga minggu di Prancis dan Inggris, Teresa justru menyebut acara minum champagne bersama putrinya di puncak Menara Eiffel. Hari itu mereka menghabiskan waktu berkeliling Paris tanpa agenda khusus.

"Kayaknya kami tidak berhenti ngobrol sepanjang waktu itu," ujar Leti.

Keinginan Teresa melihat Utah Beach memang jadi pemicu perjalanan. Hasilnya jauh melampaui pantai yang mereka tuju. Pola inilah yang kemudian disebut matriarch trip: liburan keluarga yang dibangun di sekitar pilihan destinasi seorang ibu atau nenek, dengan tempat dan pengalaman yang berarti baginya mendapat prioritas utama dalam itinerary.

Membalik Kebiasaan Lama Keluarga

Dalam banyak keluarga, ibu yang mengurus liburan. Dialah yang meneliti hotel, mengingat selera tiap anggota keluarga, dan berusaha menyenangkan semua orang. Bukan berarti keinginannya sendiri jadi prioritas saat menentukan destinasi.

Matriarch trip berangkat dari pertanyaan berbeda: dia ingin ke mana? Elizabeth Keating, profesor emerita antropologi di University of Texas at Austin, menyebut inspirasi perjalanan semacam ini bisa datang dari tempat yang sangat dekat.

Menurut Keating, anak dewasa sering tahu sangat sedikit tentang kehidupan ibu dan nenek mereka sebelum punya anak. "Kita tidak bertanya kepada ibu dan nenek soal bagaimana masa kecil mereka, pakaian yang mereka kenakan, seperti apa rumah atau lingkungan tempat mereka tumbuh, apa yang mereka takutkan waktu kecil," katanya.

Mulai dari Pertanyaan Sederhana

Langkah pertama yang disarankan Keating: tanyakan kepada ibu, kalau pilihan sepenuhnya di tangannya, dia ingin mengajak ke mana. Jika jawabannya kampung halaman masa kecil, ada baiknya menyamakan ekspektasi lebih dulu. Tempat itu bisa sudah banyak berubah, bahkan hilang.

Bagi Molly Schoneveld, jawabannya Yunani. Ibunya, Susan, selalu tertarik pada laut dan bermimpi mengunjungi Laut Aegea serta Mediterania selama bertahun-tahun. Perjalanan itu terasa jauh, tidak pernah benar-benar dicoret, tetapi berbagai urusan hidup selalu menghalangi.

Setelah Molly dan keluarganya pindah ke North Carolina agar lebih dekat dengan Susan, rencana itu baru dijalankan. Susan sempat tidak percaya ketika putrinya menyatakan ingin mengatur perjalanan ke Yunani. Tidak ada sejarah keluarga yang menanti seperti di Normandia, tetapi keinginan Susan sendiri sudah cukup jadi alasan.

Santorini, Antiparos, dan Athens

Keduanya lalu berkeliling Santorini, Antiparos, dan Athens, menyusuri lanskap yang selama ini hanya dilihat Susan di foto. Di Canaves Epitome, Oia, mereka menginap di vila dua kamar tidur dengan kolam pribadi dan teras menghadap laut.

Susan betah berjam-jam di tepi air bersama putrinya. Baginya itu jeda yang melegakan setelah bertahun-tahun merawat orang lain.

Serahkan Destinasi, Bukan Logistiknya

Memberi ibu kendali atas destinasi bukan berarti dia harus mengurus semua detail teknis. Leti, misalnya, memesan bagian perjalanan di Normandia lewat Road Scholar, organisasi nirlaba yang menggelar perjalanan edukatif untuk orang dewasa lanjut usia. Sebelumnya dia belum pernah ikut biro perjalanan, tetapi ingin ada pihak lain yang menangani urusan administratif agar dia bisa menikmati waktu bersama ibunya.

Maeve Hartney, chief program officer Road Scholar, menyebut minat pada perjalanan lintas generasi terus tumbuh. Anak-anak dewasa kini mencari pengalaman yang bisa dinikmati bersama orang tua tanpa harus mengurus semuanya sendiri.

Tips Merancang Matriarch Trip

  • Tanyakan langsung ke ibu atau nenek destinasi pilihannya, jangan menebak.
  • Gali cerita masa kecilnya untuk menemukan tempat yang punya makna personal.
  • Kelola ekspektasi jika destinasi berupa kampung halaman lama yang mungkin sudah berubah.
  • Pertimbangkan paket tur edukatif agar urusan logistik tidak membebani anak.
  • Sisakan waktu tanpa agenda, karena percakapan santai sering jadi kenangan paling kuat.

Durasi idealnya disesuaikan dengan kondisi fisik sang ibu. Untuk perjalanan lintas benua seperti yang dijalani Leti dan Teresa, tiga minggu memberi ruang cukup untuk satu destinasi utama plus waktu santai di kota lain. Perjalanan yang lebih pendek bisa dirancang untuk destinasi domestik dengan waktu tempuh lebih singkat.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: cntraveler.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top