Wagub Kaltim Seno Aji Dorong Pengembangan Peternakan Domba, Kebutuhan Baru Terpenuhi 50 Persen

Penulis: Valdi Pratama  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:01:31 WIB
Wagub Kaltim Seno Aji menyebut kebutuhan domba di Kaltim masih kurang lebih dari 50 persen.

SAMARINDA — Kebutuhan domba di Kalimantan Timur masih jauh dari terpenuhi. Wagub Kaltim Seno Aji menyebut kekurangan pasokan itu mencapai lebih dari separuh kebutuhan warga.

“Ternyata kebutuhan Kaltim ini masih kurang banyak, kurang lebih di atas 50 persen kebutuhannya yang belum terpenuhi,” kata Seno Aji, Senin (5/9/2026).

Kondisi itu dinilai menjadi peluang bagi peternak lokal untuk mengambil peran lebih besar. Pemprov Kaltim pun mendorong HPDKI berkolaborasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim mengembangkan peternakan domba di tengah masyarakat.

Kekurangan Pasokan Jadi Peluang Peternak Lokal

Seno menilai kekurangan pasokan domba tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Selama ini kebutuhan warga sebagian besar masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Pengembangan peternakan domba disebut sejalan dengan program pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan. Termasuk pemenuhan kebutuhan sumber protein hewani bagi masyarakat Kaltim.

“Kita ingin swasembada beras, swasembada pangan, dan salah satu lagi adalah swasembada daging. Nah ini salah satunya domba,” ujarnya.

Seno berharap jumlah peternak kambing dan domba di Kaltim terus bertambah. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Larangan Domba Masuk Kaltim Sudah Dicabut

Pengembangan peternakan domba di Kaltim sempat terkendala aturan kesehatan hewan. Sebelumnya, domba dilarang masuk ke wilayah Kaltim.

Seno menyebut larangan tersebut kini telah dicabut. Ternak domba sudah diperbolehkan masuk dan dikembangkan di Kaltim.

Meski begitu, masih ada ketentuan jarak yang mengikat. Peternakan domba harus berada di luar radius tiga kilometer dari peternakan sapi, khususnya sapi bali.

Aturan itu dibuat untuk mengantisipasi risiko penularan penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF) pada sapi. Penyakit tersebut bisa menular dari domba ke sapi bila jarak kandang terlalu dekat.

Radius 3 Kilometer Bakal Dikaji Ulang

Pemprov Kaltim tengah melihat peluang agar ketentuan radius tersebut dapat dikaji kembali. Salah satu opsi yang dibahas adalah memastikan perlindungan kesehatan pada ternak sapi.

Dengan begitu, peternakan domba nantinya dapat dikembangkan pada wilayah yang lebih dekat dengan peternakan sapi.

“Nah radius 3 km ini kita harus memastikan bahwa penyakit domba yang bisa menularkan penyakit MCF kepada si sapi, itu juga harus kita amankan dulu,” jelas Seno.

Untuk mendukung kajian itu, Pemprov Kaltim akan melibatkan akademisi dan instansi teknis. Penelitian akan dilakukan bersama Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim.

“Kita bersama dengan Fakultas Pertanian dari Unmul dan Dinas Peternakan melakukan penelitian itu,” pungkasnya.

Hasil kajian tersebut nantinya menjadi dasar bagi Pemprov Kaltim untuk menentukan apakah radius tiga kilometer tetap diberlakukan atau dilonggarkan.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: pusaranmedia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top