SAMARINDA — Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur Bambang Arwanto menyatakan proyek hilirisasi ini dirancang mengolah batu bara berkalori rendah yang selama ini bernilai jual rendah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Pabrik dikembangkan PT Bumi Etam Chemical, konsorsium PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal, di atas lahan 93 hektare dengan nilai investasi Rp 41,2 triliun.
“Proyek hilirisasi ini dirancang untuk mengolah komoditas batu bara berkalori rendah menjadi produk metanol yang sangat dibutuhkan industri,” kata Bambang di Samarinda, Kamis 1 Oktober 2026.
Untuk bahan baku, pabrik akan menyerap 7,7 juta ton per tahun batu bara kalori rendah 3.400 kilokalori per kilogram. Metanol yang dihasilkan berstandar internasional IMPCA Grade.
Produk tersebut akan difungsikan sebagai campuran bahan bakar minyak, bahan baku industri petrokimia, formaldehida, serta pengembangan FAME untuk program biodiesel B50.
Data Kementerian ESDM menyebutkan kebutuhan metanol Indonesia sepanjang 2025 mencapai 1,3 hingga 1,5 juta ton per tahun. Kapasitas produksi dalam negeri baru 400 ribu ton, sehingga Indonesia harus mengimpor dengan nilai mencapai Rp 7,1 triliun per tahun.
Ketergantungan itu berpotensi melonjak seiring program mandatori biodiesel B50 yang berlaku 1 Juli 2026. Pupuk Indonesia memproyeksikan tanpa tambahan pabrik baru, kebutuhan metanol nasional naik menjadi 2,9 juta ton pada 2027 dan impor bisa menembus 2,5 juta ton.
Dengan kapasitas 2 juta ton per tahun, pabrik di Kutai Timur diproyeksikan mampu memangkas impor secara signifikan dan menghemat devisa negara hingga Rp 7,1 triliun setiap tahun.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat groundbreaking proyek di BCIP pada awal September lalu menegaskan proyek ini adalah contoh hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk pengawasan energi.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menyerap hingga 5.000 orang pada puncak konstruksi dan 800 tenaga kerja tetap saat beroperasi penuh.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara tegas menekan agar jajaran pengembang proyek selalu memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal daerah,” kata Bambang.
Pemprov Kaltim berkomitmen mengawal proyek ini hingga tuntas. “Kami berkomitmen penuh untuk memastikan proyek hilirisasi ini berjalan tuntas hingga tahap produksi demi mewujudkan kelangsungan energi nasional,” ujar Bambang.
Target commissioning pabrik dijadwalkan pada 2029 mendatang.