Pengakuan ini datang dari seorang jurnalis teknologi yang telah bertahun-tahun membela visi Google tentang Android yang bersih dan tanpa modifikasi. Namun kini, ia menilai ekosistem Android murni lebih mirip kandang berlapis beludru daripada platform terbuka. Kekesalannya memuncak setelah Google mengumumkan rencana pembatasan pemasangan aplikasi dari sumber luar (sideloading) di versi Android mendatang.
Dalam tulisannya, ia mengaku menggunakan Pixel 7 dan selalu memuji bahasa desain serta kumpulan fitur bawaan Google. Namun ia lupa bahwa banyak fitur favoritnya justru diaktifkan secara diam-diam oleh aplikasi pihak ketiga yang terintegrasi dengan baik.
Google, menurutnya, kini lebih fokus pada alat-alat kecerdasan buatan dan perbaikan visual di Android. Sementara itu, lapisan antarmuka buatan pabrikan lain seperti One UI milik Samsung atau HyperOS milik Xiaomi justru meningkat drastis, meninggalkan desain referensi Android dalam debu.
Alih-alih beralih ke ponsel Samsung atau Xiaomi, ia memilih untuk menginstal empat aplikasi spesifik yang mengisi celah yang ditinggalkan Google. Aplikasi-aplikasi ini tidak disebutkan namanya secara eksplisit dalam tulisan asli, namun dikategorikan sebagai alat yang mengembalikan fungsi dasar yang hilang atau rusak di Android versi terbaru.
Keempat aplikasi tersebut mencakup pengganti galeri yang lebih cerdas, peluncur aplikasi yang lebih responsif, pengelola notifikasi yang lebih granular, serta alat kustomisasi yang memungkinkan pengguna mengubah elemen antarmuka yang sebelumnya dikunci oleh Google.
Kritik utama yang muncul adalah soal konsistensi. Google membangun Android sebagai sistem operasi terbuka, namun perlahan-lahan mulai mengunci fitur-fitur yang justru membuatnya populer. Pembatasan sideloading adalah contoh paling nyata dari pergeseran ini.
Bagi pengguna di Indonesia, situasi ini terasa relevan. Banyak aplikasi lokal atau versi modifikasi dari aplikasi global justru diinstal lewat file APK. Jika Google benar-benar menerapkan pembatasan tersebut, pengguna Tanah Air akan menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.
"Saya tidak bisa lagi mempercayai Google untuk memilih apa yang terbaik bagi saya," tulisnya. Kalimat ini menjadi inti dari frustrasi yang dirasakan banyak pengguna Android murni. Mereka tidak menolak inovasi, tapi menolak arahan sepihak yang mengorbankan fleksibilitas.
Pada akhirnya, solusinya bukan beralih ke iOS atau merek China. Cukup dengan empat aplikasi pihak ketiga, pengalaman menggunakan Pixel 7 kembali terasa seperti Android yang dulu: bebas, cepat, dan milik pengguna sepenuhnya.