BALIKPAPAN — Keramaian pengunjung di pusat perbelanjaan Balikpapan Superblock tidak berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel di kawasan yang sama. Data okupansi hotel di wilayah ini menunjukkan tren yang masih naik turun, berbeda dengan aktivitas ritel yang cenderung stabil ramai.
Fenomena ini menjadi perhatian para pelaku usaha perhotelan di Balikpapan. Meskipun mal dan area komersial di Superblock dipadati pengunjung setiap akhir pekan, tingkat hunian kamar hotel justru tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Para pengelola hotel mencatat okupansi masih bergantung pada jadwal kegiatan pemerintahan, acara korporasi, dan event berskala kota, bukan semata-mata pada kunjungan ke pusat perbelanjaan.
Data yang dihimpun dari beberapa hotel di kawasan Superblock menunjukkan pola yang jelas. Pada hari kerja, okupansi bisa turun drastis di bawah 40 persen. Lonjakan baru terjadi ketika ada agenda besar seperti pameran, rapat dinas, atau konser di Ballroom Balikpapan Superblock. "Akhir pekan memang ramai, tapi itu didominasi pengunjung mal, bukan tamu hotel," ujar seorang staf reservasi hotel bintang tiga di lokasi tersebut.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola hotel untuk mencari strategi baru. Mereka kini mulai menggandeng penyelenggara acara dan pelaku UMKM di mal untuk membuat paket promosi terintegrasi. Tujuannya, agar pengunjung mal tidak hanya belanja, tetapi juga terdorong untuk menginap di hotel sekitar.
Para pengamat pariwisata lokal menilai fenomena ini wajar terjadi di kota transit seperti Balikpapan. Sebagian besar pengunjung mal adalah warga lokal yang pulang ke rumah masing-masing, sementara wisatawan atau pebisnis lebih banyak memilih hotel berdasarkan lokasi meeting atau akses ke bandara. Ke depan, kolaborasi antara pengelola mal dan hotel di Superblock dinilai perlu diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.