KALIMANTAN TIMUR — Presiden Joko Widodo menyambut antusias ajakan Panglima Jilah untuk bermain dalam film kolosal yang mengangkat sejarah hubungan Kerajaan Dayak dan Majapahit. Jokowi bahkan menyatakan tidak masalah jika hanya diberi peran sebagai figuran.
"Jadi figuran pun saya siap," kata Jokowi dalam pertemuan dengan Panglima Jilah di Kalimantan Timur, baru-baru ini.
Panglima Jilah, tokoh masyarakat Dayak yang dikenal aktif dalam pelestarian budaya, menggagas film ini untuk merekonstruksi narasi sejarah yang selama ini jarang diangkat. Kerajaan Dayak dan Majapahit disebut memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan yang erat pada abad ke-14.
Film ini direncanakan bergaya kolosal dengan melibatkan ribuan figuran serta latar belakang hutan Kalimantan dan situs bersejarah. Panglima Jilah berharap produksi ini bisa menjadi medium edukasi bagi generasi muda tentang akar budaya Nusantara.
Jokowi mengaku terkesan dengan inisiatif Panglima Jilah. Ia menilai film kolosal semacam ini penting untuk memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
"Saya dukung penuh. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga pengingat bahwa Nusantara dibangun di atas keberagaman yang saling menghormati," ujar Jokowi.
Hingga saat ini, Panglima Jilah belum merilis jadwal pasti produksi film tersebut. Namun, ia menyebut proses praproduksi sudah berjalan, termasuk penulisan naskah dan survei lokasi syuting di beberapa titik di Kalimantan Timur.
Film ini rencananya akan melibatkan komunitas adat Dayak, sejarawan, serta sineas lokal dan nasional. Panglima Jilah juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendukung pendanaan dan perizinan.
Film ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memperkuat narasi sejarah Nusantara yang inklusif. Panglima Jilah menegaskan, proyek ini adalah milik bersama masyarakat Dayak dan seluruh bangsa Indonesia.