Sutarno Wijaya Resmi Pimpin POSSI Kaltim, Targetkan Medali Emas di PON 2028

Penulis: Zaki Mubarak  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:30:16 WIB
Sutarno Wijaya resmi memimpin POSSI Kaltim periode 2025-2029 dengan target medali emas di PON 2028.

SAMARINDA — Sutarno Wijaya resmi memimpin Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kalimantan Timur periode 2025-2029. Target ambisius langsung dicanangkan: mendulang medali emas di PON 2028.

Pembinaan atlet selam menjadi fokus utama kepengurusan baru ini. Langkah strategis disiapkan untuk meningkatkan prestasi olahraga yang sempat menorehkan nama Kaltim di kancah nasional tersebut.

Target Emas PON 2028: Butuh Pembinaan Sejak Dini

Sutarno menegaskan bahwa medali emas bukan sekadar wacana. Untuk mewujudkannya, POSSI Kaltim akan memulai pembinaan atlet secara intensif dan terstruktur.

“Kami tidak ingin hanya jadi peserta. Target emas PON 2028 harus dipersiapkan dari sekarang, mulai dari pembibitan atlet muda hingga pengiriman pelatih berkualitas,” ujar Sutarno dalam sambutan perdananya.

Fokus Pembinaan: Atlet Muda Jadi Prioritas

Kepengurusan baru POSSI Kaltim akan memprioritaskan pencarian bakat di daerah-daerah. Menurut Sutarno, potensi atlet selam di Kaltim cukup besar, namun belum tergarap maksimal.

“Kami akan turun ke kabupaten dan kota untuk menjaring atlet muda berbakat. Pembinaan akan dilakukan secara berjenjang agar mereka siap bersaing di level nasional,” tambahnya.

Evaluasi dan Target Antara

Sebelum PON 2028, POSSI Kaltim akan mengevaluasi kemampuan atlet melalui berbagai kejuaraan daerah dan nasional. Target antara seperti perolehan medali di Kejurnas dan Pra-PON akan menjadi tolok ukur kesiapan tim.

Dengan kepemimpinan baru ini, publik Kaltim berharap cabang olahraga selam bisa kembali berjaya di kancah nasional, sekaligus mengharumkan nama daerah di ajang multi-event terbesar Indonesia.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: kaltimpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top