KALIMANTAN TIMUR — Kepastian itu mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun sejak era The Invincibles di bawah Arsene Wenger. Arsenal kini mengoleksi 14 gelar liga, terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola Inggris, dan memutus rantai tiga musim beruntun sebagai runner-up.
Mikel Arteta, yang kini memasuki musim ketujuh penuh sebagai manajer, akhirnya mempersembahkan mahkota yang sudah lama dinanti. The Gunners masih menyisakan satu laga tandang ke Crystal Palace di akhir pekan nanti, namun status juara sudah tak tergoyahkan dengan keunggulan empat poin yang tak bisa dikejar.
City sebenarnya punya peluang emas untuk memperpanjang persaingan setelah Arsenal hanya menang tipis 1-0 atas Burnley pada Senin (11/5) berkat gol Kai Havertz. Kemenangan di Dean Court akan memangkas jarak menjadi dua poin dengan satu laga tersisa.
Namun Bournemouth, yang sendiri tengah memburu tiket Eropa, tampil garang. Eli Junior Kroupi membawa The Cherries unggul lebih dulu, membuat tuan rumah nyaris mengamankan tiga poin penuh. Erling Haaland memang menyamakan kedudukan melalui gol di masa injury time, tapi hasil imbang itu sudah cukup bagi Arsenal untuk mengunci gelar.
"Selamat untuk Arsenal, tapi bagi City, kami hanya berharap sedikit lebih banyak. Saat semuanya ada di tangan mereka, mereka tak mampu menyelesaikannya," ujar mantan bek City Micah Richards, yang kini menjadi pengamat.
"Ini hari yang buruk. Jatuh seperti ini—kalah dari Everton, imbang lawan Bournemouth—kami seharusnya bisa lebih dari itu," sambungnya.
Kegagalan ini terasa pahit mengingat Pep Guardiola akan meninggalkan klub pada akhir musim setelah sepuluh tahun membangun dinasti. City tak mampu mempertahankan konsistensi di momen krusial.
Arsenal sempat diragukan setelah kalah di Etihad Stadium bulan lalu. Namun sejak saat itu, The Gunners memenangkan empat pertandingan beruntun tanpa kebobolan satu gol pun—sebuah bukti soliditas pertahanan yang dibangun Arteta.
"Kami tahu dari dalam bahwa keyakinan itu masih ada, kami masih bisa menang," kata gelandang Declan Rice. "Tapi ini emosional. Melihat dari mana klub ini berasal dalam sepuluh tahun terakhir—naik turunnya—saya tidak ada di sini sebelumnya, tapi saya tahu, saya dengar. Menjadi bagian dari apa yang terjadi sekarang sangat spesial. Klub ini pantas mendapatkan hal-hal baik."
Perayaan di London Utara mungkin baru pemanasan. Arsenal masih berpeluang mencatatkan double bersejarah dengan merebut trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Mereka akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Budapest, Sabtu (23/5) pekan depan.
Jika sukses, musim 2025/26 akan tercatat sebagai salah satu musim paling gemilang dalam sejarah Arsenal—mengakhiri kutukan 22 tahun, mematahkan dominasi City, dan mengukir nama di panggung Eropa.