BALIKPAPAN — Defiana Achmad Noor, pemilik usaha Cireng Morotai (Cimor), memadukan cireng khas Jawa Barat dengan daging kepiting, salah satu hasil laut yang dikenal di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Inovasi itu berangkat dari keinginan menghadirkan sesuatu yang berbeda, karena cireng selama ini identik dengan isian ayam, keju, atau aneka varian rasa lain.
Nama Morotai diambil dari Jalan Morotai Kompleks Gunung Dubs Balikpapan, tempat Defi tinggal dahulu. Dari situ, cireng Morotai disingkat menjadi Cimor.
Dari Dapur hingga 10 Kali Uji Coba
Defi memulai usaha dari eksperimen sederhana di dapur. Produksi pertama dibagikan kepada rekan-rekan di kantor, dan antusiasme mereka mendorongnya rutin membuat cireng.
“Produksi pertama, aku bagikan rekan di kantor. Ternyata antusias. Dari situ aku rutin bikin cireng,” ujar Defi, dikutip dari keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Respons pasar tumbuh dari rasa penasaran masyarakat terhadap cireng berisi kepiting. Perjalanan bisnisnya sempat terhenti ketika Defi pindah dan menetap di Tegal mengikuti suami yang pindah tugas. Pada 2021, dia kembali ke Balikpapan dan menghidupkan lagi produksi cireng kepiting.
Pre-Order Jadi Andalan, Pasar Merambah Kafe
Sistem pre-order yang dipilih Defi membuahkan hasil. Pasar Cimor meluas hingga menyasar kafe-kafe yang telah memiliki pelanggan tetap.
“Karena cuma aku yang produksi cireng kepiting,” kata Defi.
Kapasitas produksi Cimor kini mencapai sekitar 1.000 kemasan setiap bulan. Jumlah itu biasanya meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran seiring bertambahnya permintaan konsumen.
Tiga Rasa dan Sambal Rujak sebagai Pelengkap
Cimor hadir dalam pilihan rasa kepiting, original, dan pedas. Produk ini dilengkapi sambal rujak sebagai pelengkap, dan belakangan Defi juga menjual sambal Cimor secara terpisah agar konsumen bisa menikmatinya sesuai selera.
Untuk menjaga kualitas, Cimor memakai sistem penyimpanan beku atau frozen food dengan daya simpan hingga enam bulan di dalam freezer.
Halal, HAKI, dan Target Sertifikasi BPOM
Dari sisi legalitas, Cimor telah mengantongi sertifikat halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pengurusan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi target berikutnya seiring keinginan menembus pasar ekspor.
Sebelum itu, Defi berencana membuka jaringan reseller untuk sejumlah daerah. Keseriusan mengembangkan Cimor terlihat sejak akhir 2024, saat dia mulai bergabung dengan forum-forum UMKM untuk memperdalam pengetahuan pengelolaan usaha, membangun branding, mengikuti coaching, hingga memanfaatkan digital marketing.
Jargon "Balikpapan juga Punya, Bos Ku!"
Semangat membangun produk berciri khas daerah terangkum dalam jargon Cimor, “Balikpapan juga Punya, Bos Ku!” Kalimat itu menjadi pesan bahwa Balikpapan tidak hanya dikenal dengan sektor minyak dan gas maupun hasil lautnya, tetapi juga memiliki produk olahan kreatif yang mampu bersaing.
Di luar kesibukannya mengembangkan produk, Defi aktif mendorong pertumbuhan UMKM di Balikpapan. Dia dipercaya menjadi Ketua Serindang Borneo Cemerlang yang beranggotakan 18 UMKM serta Ketua Komunitas Borneo Berdaya dengan sekitar 60 anggota UMKM.