SAMARINDA — Pelantikan yang digelar Senin (28/9) menempatkan dr Jaya Mualimin di kursi Kepala Dinas Sosial, sementara Andi Muhammad Ishak yang sebelumnya menjabat di posisi itu kini mengisi kursi Kepala Dinas Kesehatan. Selain keduanya, enam pejabat eselon 2 lain ikut digeser dalam rombongan yang sama.
Dasmiah berpindah dari Kepala Biro Kesra ke Kepala Badan Pendapatan Daerah. dr Ariesanty Irawati Marhabang dilantik sebagai Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD AWS, Rosjidah Rahmawati sebagai Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD AWS, dan dr Nurliana Adriati Noor sebagai Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD Kanujoso Balikpapan.
Andi Ishak Bukan Orang Baru di Dinkes
Andi Muhammad Ishak pernah menjabat Kasubbag Perencanaan, Sekretaris Dinkes, hingga Plt Dinkes. Latar belakang itu disebut membuatnya tak perlu waktu panjang untuk menyesuaikan diri.
Yang membedakan, Andi bukan berlatar dokter. Dia sarjana farmasi dan berstatus apoteker. Kepada wartawan, Andi mengaku belum mengetahui detail seluruh persoalan yang tengah dihadapi Dinkes.
"Saya konsolidasi dulu sambil menggali seluruh persoalan berikut solusinya," katanya.
Gubernur Bantah Ada Masalah di Balik Rotasi
Gubernur Rudy Mas'ud membantah rotasi dr Jaya Mualimin berkaitan dengan sejumlah masalah yang menerpa instansi yang dipimpinnya. Menurut dia, rotasi ini soal penyegaran, pengembangan wawasan, dan memberi kesempatan ASN lain meniti karier.
Jaya Mualimin menepis isu serupa. Dia menyebut penyegaran itu telah dibahas sejak beberapa bulan lalu dan kebijakan manajemen talenta sudah diterapkan, sehingga dia tak kaget saat mutasi dijalankan.
"Ini tantangan baru buat saya dan saya akan melanjutkan program-program yang sudah dirintis Pak Andi," ujarnya.
Penghargaan Kemendagri, Lima Hari Berselang Demo Nakes
Awal September, Gubernur Rudy Mas'ud menerima penghargaan Kemendagri sebagai Juara 1 Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan Tingkat Provinsi se Kalimantan. Selain trofi, Kaltim menerima hadiah uang Rp2 miliar.
Lima hari setelah penghargaan itu, ribuan karyawan dan tenaga kesehatan RSUD AWS berdemo. Dokter, bidan, dan perawat ikut terlibat menuntut pencairan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang tertunggak tiga bulan senilai lebih dari Rp105 miliar.
Buntut aksi itu, Gubernur mencopot Plt Direktur RSUD AWS dr Mazniati. Sejumlah kepala ruangan RSUD AWS juga diancam surat peringatan.
Dugaan Mark-up Alkes Rp4,68 Miliar dan Somasi Rp5 Miliar
Akhir Agustus, Koalisi Pemuda Anti Korupsi Kalimantan Timur (KPAK-KT) berunjuk rasa di Kantor Dinkes Kaltim di Jalan A Wahab Syahranie 16, Gunung Kelua. Mereka menuntut transparansi pengelolaan anggaran dan mempertanyakan dugaan mark-up pengadaan alat kesehatan senilai Rp4,68 miliar untuk RSUD AWS dan Kanujoso.
RSUD AWS juga menghadapi tuntutan keluarga pasien yang meminta kompensasi Rp5 miliar plus somasi atas dugaan kelalaian medis dalam penanganan pasien jantung Ediyanto Wongso. Pada Februari, EW menjalani pemasangan ring di RSUD AWS oleh dokter spesialis jantung berinisial MF.
Kondisi EW memburuk pascaoperasi dan keluarga merujuknya ke Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Dokter di sana menemukan guidewire sepanjang 2 cm tertinggal di jantung EW, diduga akibat kelalaian saat operasi pemasangan ring.
Keluarga dan kuasa hukum telah menjalani 14 kali mediasi sejak April. Kesepakatan sempat dicapai, tetapi belakangan tak bisa dijalankan sehingga EW melalui kuasa hukumnya menyampaikan somasi.
Direktur RSUD AWS Dirangkap dari Kanujoso
Kursi Direktur RSUD AWS saat ini dirangkap drg Jais Ahmad Jais, yang jabatan definitifnya Direktur RSUD Kanujoso Djatiwibowo. Banyak pihak menilai kebijakan itu tidak efektif karena Jais harus mengendalikan dua RSUD tipe A yang berjauhan dan berbeda daerah.
Seorang netizen menyoroti penempatan dr Jaya Mualimin. "Lucu juga yang Pak Jaya jadi Kadinsos, kenapa tidak jadi Direktur RSU AWS yang lagi kosong. Bukankah beliau juga magister rumah sakit," komentarnya.