SANGATTA — Operasional listrik 24 jam yang baru dinikmati enam desa di Kecamatan Sangkulirang membuka ruang ekonomi baru bagi warganya. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman meresmikan langsung layanan tersebut di Kantor Desa Saka, Sabtu (29/8/2026).
Enam desa yang kini menikmati listrik penuh sehari penuh itu adalah Desa Saka, Pelawan, Mandu Dalam, Tepian Terap, Mandu Pantai Sejahtera, dan Peridan. Sebelumnya, sebagian besar wilayah di pesisir utara Kutim ini hanya menikmati listrik beberapa jam dalam sehari.
“Begitu listrik ada di rumah, peluang usaha pun langsung muncul, maka arahkan bantuan keuangan khusus desa Rp250 juta di setiap RT untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dan mengentaskan kemiskinan,” ujar Ardiansyah di Sangatta, Ahad.
Dana RT Dua Tahap: Rp 100 Juta dan Rp 150 Juta
Dana RT yang dimaksud adalah bantuan keuangan khusus desa yang dicairkan dalam dua tahap. Pada anggaran murni, setiap RT menerima Rp 100 juta, lalu disusul tambahan Rp 150 juta pada anggaran perubahan.
Ardiansyah menuturkan total anggaran itu mencapai Rp 250 juta per RT per tahun. Ketua RT bersama pengurus dan kelompok masyarakat diminta bermusyawarah menyusun kegiatan yang menyentuh warga berpenghasilan rendah.
Pelatihan Menjahit hingga Usaha Es Krim Jadi Prioritas
Pemanfaatan dana tak hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga pelatihan keterampilan yang membutuhkan pasokan listrik stabil. Di antaranya membuat es krim, kue dengan oven listrik, menjahit, perbengkelan, hingga pengolahan makanan.
“Pastikan dulu mereka memiliki keterampilan supaya ada peluang untuk berusaha. Setelah punya keterampilan, modal usaha akan dikucurkan agar bermanfaat dan tepat sasaran,” katanya.
Modal usaha itu disalurkan melalui Dinas Koperasi dan UMKM yang bersumber dari 50 program unggulan bupati dan wakil bupati pada anggaran perubahan tahun ini. Setiap RT diwajibkan melaksanakan minimal tiga kegiatan ekonomi per tahun sesuai peraturan bupati.
Target Bebas Kemiskinan di Kutai Timur 2029
Integrasi antara listrik masuk desa, pelatihan, dan permodalan itu ditargetkan menurunkan angka kemiskinan bertahap mulai dari level RT. “Keberadaan listrik masuk desa yang dikombinasikan dengan pelatihan dan permodalan ini, pemda menargetkan penurunan angka kemiskinan dimulai dari RT dalam kurun waktu lima tahun, menuju sasaran bebas kemiskinan di Kutai Timur pada 2029,” ujar Ardiansyah.
Harapannya, kehadiran listrik permanen tidak berhenti sebagai penerangan, tetapi menjadi dasar tumbuhnya usaha mikro yang menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan. Pemkab Kutim akan memantau capaian kegiatan ekonomi di tiap RT sepanjang tahun anggaran berjalan.