BONTANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang masih menyelidiki sumber kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) yang ditemukan pada menu ayam suwir kemangi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa SMP YPVDP Vidatra. Temuan ini muncul setelah empat sampel makanan yang diproduksi SPPG Bontang Selatan 5 diuji di laboratorium, dan hanya satu menu yang menunjukkan adanya bakteri patogen tersebut.
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menegaskan hasil uji laboratorium ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bakteri tersebut menjadi penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa. Pemeriksaan pun tidak berhenti pada sampel makanan, melainkan diperluas ke seluruh rantai pengolahan di dapur SPPG.
Mengapa Bakteri E. coli Belum Tentu Jadi Penyebab Siswa Sakit?
Toetoek menjelaskan bahwa bakteri E. coli memiliki banyak jenis. Sebagian di antaranya justru ditemukan secara normal pada saluran pencernaan manusia dan hewan, sementara jenis tertentu lainnya dapat memicu gangguan kesehatan.
"Keberadaan E. coli perlu dilihat lebih lanjut," ujarnya. Kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing individu juga turut memengaruhi respons terhadap paparan bakteri, sehingga makanan yang terkontaminasi tidak selalu menimbulkan gejala yang sama pada setiap orang.
Proses Pendinginan dan Pemorsian Jadi Titik Rawan Kontaminasi
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, menyebutkan sejumlah tahapan pengolahan kini menjadi perhatian utama. Dalam pemeriksaan lapangan, petugas mendapati proses pendinginan dan pemorsian makanan dilakukan di ruangan yang sama.
Selain itu, petugas juga akan memantau penggunaan kemangi mentah saat proses memasak dan sumber air yang dipakai untuk mencuci sayuran. "Kemungkinan ada saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Penggunaan air untuk mencuci sayuran juga akan kami pantau," jelas Sudirman.
Jeda Waktu 10 Jam Sejak Makanan Dimasak Hingga Diterima Siswa
Rangkaian distribusi makanan juga menjadi sorotan. Dinkes menilai jeda waktu yang panjang antara makanan selesai dimasak hingga diterima siswa dapat menjadi faktor utama yang memengaruhi keamanan pangan.
"Proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya," kata Toetoek. Penelusuran kini diarahkan untuk mengetahui pada tahapan mana kontaminasi kemungkinan terjadi, mulai dari bahan baku, pencucian, proses memasak, pendinginan, pemorsian, hingga distribusi.
Dinkes Gandeng DKP3 untuk Evaluasi Keamanan Ayam Beku
Dinkes tidak bekerja sendiri dalam penyelidikan ini. Untuk mengevaluasi keamanan bahan pangan, termasuk ayam beku yang digunakan sebagai bahan baku, Dinkes akan berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang.
"Kalau kami kan meninjau medisnya. Tapi terkait bahan pangan, itu tupoksi Dinas Ketahanan Pangan, yang harus mengevaluasi penggunaan ayam frozen," tambah Toetoek. Evaluasi lintas instansi ini dilakukan untuk memastikan keamanan pangan MBG secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi medis.